Sabtu, 02 Agustus 2014 RSS Feed Bisnis TV Photos ePaper Indonesia Business Daily

APBN-P 2012: Menkeu pastikan defisit diperlebar

  -   Senin, 20 Februari 2012, 21:42 WIB

BERITA TERKAIT

JAKARTA: Pemerintah akan memperlembar defisit anggaran tahun ini, lebih besar dari rencana 1,5% PDB, menyusul rencana percepatan pembahasan revisi  APBN 2012 pada Maret mendatang.Menteri Keuangan Agus D. W. Martowardojo mengatakan jika melihat perkembangan asumsi-asumsi makro di APBN 2012 yang terkoreksi akibat faktor global, maka akan berimbas pada ruang fiskal yang menyempit.Hal tersebut nantinya dapat terlihat dari defisit anggaran yang akan membengkak melebihi rencana 1,% PDB di APBN 2012.“Sekarang ini kan APBN defisitnya 1,5 %  PDB dan kalau situasi dunia ini berkembang bisa-bisa defisitnya lebih besar dari itu. Jadi rencananya kami akan melaporkan ke presiden tentang rencana(percepatan) APBNP,” ujarnya di sela rapat kerja Kementerian Keuangan, Senin (20/02).Intinya, tegas Menkeu, pemerintah akan menjaga agar fiskal tetap sehat, meski akan terjadi perubahan postur anggaran dan sejumlah indikator makro ekonomi.Asumsi-asumsi yang akan diubah, a.l. pertumbuhan ekonomi, harga minyak mentah Indonesia (ICP), dan target produksi minyak.“Kami akan jaga supaya keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi tetap baik, fiskal terjaga defisitnya dan domestik ekonomi tetap baik dan menjaga kesejahteraan rakyat,” tuturnya.Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan, mengatakan jika defisit dipertahankan pada level 1,5% PDB, maka salah satu opsi yang perlu dilakukan pemerintah adalah adalahmengurangi belanja kementerian/lembaga (K/L).Namun, kalau berdasarkan kajian pihaknya meski opsi tersebut dilakukan, akan sulit untuk menjaga defisit tidak melebar.“Diharapkan demikian (defisit tetap), tapi kelihatannya tidak bisa ditahan di level itu,” pesimisnya.Amri Zaman, Direktur Potensi Penerimaan dan Kebijakan Perpajakan Ditjen Pajak, menjelaskan melambatnya pertumbuhan ekonomi akan langsung berdampak terhadap penurunan penerimaan pajakpertambahan nilai (PPN).Fenomena tersebut sudah terlihat dari kontribusi PPN terhadap produk domestic bruto yang kini sekitar 3,9%, lebih rendah dari standar  internasonal yang minimal 4%.“Sekarang kan pertumbuhan ekonomi 6,7%, kalau turun misalnya jadi 6,5%, kan turun 0,2%. Ada potensi penurunan pajak, tapi tidak banyak. Tapi yang langsung kena PPN karena kan pajak konsumsi,” jelasnya.Rencananya, lanjut Amri, akan diusulkan penurunan target penerimaan PPN dan pajak penghasilan dalam pembahasan revisi APBN 2012.Pengajuan RAPBNP 2012 ke DPR akan dilakukan segera sehingga diharapkan pembahasan sudah bisa dilakukan awal Maret nanti.“Kalau Pak Menteri Keuangan maunya 1 Maret mulai bicara dengan DPR, membahas APBNP. Mudah-mudahan April atau Mei selesai APBNP-nya,” tuturnya. (Bsi)


Editor :

Siapa peraih GRAND PRIZE 1 UNIT MOTOR Tebak Skor & Juara Brasil 2014? Klik DI SINI!.
 

THR dari Bisnis Indonesia: Berlangganan ePaper seumur hidup hanya Rp10 juta. Terbatas hingga 31 Juli, klik DI SINI!.

Layak Disimak

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.