Senin, 24 November 2014 RSS Feed Bisnis TV Photos ePaper Indonesia Business Daily

APBN: Harga BBM Subsidi Sulit Dinaikkan Tahun Ini

Diena Lestari   -   Kamis, 02 Agustus 2012, 19:00 WIB

BERITA TERKAIT

JAKARTA: Meski lonjakan harga minyak mentah Indonesia (ICP) diproyeksi mereda, namun tingkat harga minyak di kisaran US$100 per barel diproyeksi tetap membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

 

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Rudi Rubiandini menuturkan realisasi ICP sepanjang Juli sebesar US$102,88 per barel. Realisasi ini mengalami kenaikan dibandingkan capaian Juni US$99,08 per barel.

 

Adapun rata-rata realisasi ICP 6 bulan terakhir Februari-Juli 2012 sebesar US$115,11 per barel, lebih rendah dari rerata realisasi ICP Januari-Juni 2012, yakni US$117 per barel.

 

“Kondisi harga ICP di kisaran US$100 per barel itu justru tidak enak, karena harga tidak boleh naik, tapi bisa bikin APBN jebol,” katanya, hari ini.

 

Realisasi ICP tersebut, kata Rudi, memberi gambaran kecil kemungkinan realisasi ICP 6 bulan terakhir sebesar US$120,75 per barel sebagaimana syarat untuk bisa menaikkan harga BBM bersubsidi, yang diatur dalam UU APBN-P 2012.

 

Menurutnya, deviasi ICP sebesar 15% dari asumsi APBN-P 2012 US$105 per barel hanya dapat dicapai dengan kenaikan signifikan ke level US$140 per barel dalam 2-3 bulan ke depan.

 

“Jadi menurut perkiraan saya, tahun ini sangat sulit untuk menaikkan harga BBM bersubsidi. Karena tren ICP ke depan akan sulit menembus US$100 per barel, karena ekonomi dunia melemah di Eropa, India, China dan Jepang,” tuturnya. (04/yus)


Editor :

Ikuti berita Bisnis.com melalui smartphone Android dengan aplikasi Android Apps Bisnis.com. Download di Google Play!
 
Beli Buku, Data, ePaper, Indonesia Business Daily bisa dengan kartu kredit. Klik di sini!
Reader's Choice: Pilih Topik menarik untuk Diulas oleh Harian Bisnis Indonesia. Klik di sini!

Layak Disimak

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.