Minggu, 21 Desember 2014

APBN: Harga BBM Subsidi Sulit Dinaikkan Tahun Ini

Diena Lestari Kamis, 02/08/2012 19:00 WIB

JAKARTA: Meski lonjakan harga minyak mentah Indonesia (ICP) diproyeksi mereda, namun tingkat harga minyak di kisaran US$100 per barel diproyeksi tetap membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

 

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Rudi Rubiandini menuturkan realisasi ICP sepanjang Juli sebesar US$102,88 per barel. Realisasi ini mengalami kenaikan dibandingkan capaian Juni US$99,08 per barel.

 

Adapun rata-rata realisasi ICP 6 bulan terakhir Februari-Juli 2012 sebesar US$115,11 per barel, lebih rendah dari rerata realisasi ICP Januari-Juni 2012, yakni US$117 per barel.

 

“Kondisi harga ICP di kisaran US$100 per barel itu justru tidak enak, karena harga tidak boleh naik, tapi bisa bikin APBN jebol,” katanya, hari ini.

 

Realisasi ICP tersebut, kata Rudi, memberi gambaran kecil kemungkinan realisasi ICP 6 bulan terakhir sebesar US$120,75 per barel sebagaimana syarat untuk bisa menaikkan harga BBM bersubsidi, yang diatur dalam UU APBN-P 2012.

 

Menurutnya, deviasi ICP sebesar 15% dari asumsi APBN-P 2012 US$105 per barel hanya dapat dicapai dengan kenaikan signifikan ke level US$140 per barel dalam 2-3 bulan ke depan.

 

“Jadi menurut perkiraan saya, tahun ini sangat sulit untuk menaikkan harga BBM bersubsidi. Karena tren ICP ke depan akan sulit menembus US$100 per barel, karena ekonomi dunia melemah di Eropa, India, China dan Jepang,” tuturnya. (04/yus)

Apps Bisnis.com available on:    
Beli Buku, Data, ePaper, Indonesia Business Daily bisa dengan kartu kredit. Klik di sini!
Reader's Choice: Pilih Topik menarik untuk Diulas oleh Harian Bisnis Indonesia. Klik di sini!
more...