Minggu, 26 Oktober 2014 RSS Feed Bisnis TV Photos ePaper Indonesia Business Daily

IMPOR HORTIKULTURA: Harga Melejit, Regulasi Perlu Dikaji Ulang

Sutarno   -   Rabu, 13 Maret 2013, 17:45 WIB

BERITA TERKAIT

BISNIS.COM, JAKARTA—K ementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan diminta segera melakukan kajian bilateral terkait regulasi impor hortikultura guna menghindari terjadinya lonjakan harga. 

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan lonjakan harga beberapa komoditas hortikultura pada Januari-Februari 2013, harus segera diatasi.
Berdasarkan data BPS, pada Februari 2013, kelompok bahan makanan menyumbang 0,49% terhadap laju inflasi Februari 2013 yang tercatat 0,75%. Adapun komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi a.l. bawang putih 0,12%, tomat sayur dan bawang merah 0,07%, cabai merah 0,04%, telur ayam ras dan jeruk masing-masing 0,02%, serta daging sapi 0,01%.

Untuk mengatasi lonjakan harga tersebut, imbuhnya, pasokan di dalam negeri harus dijaga dan permintaan harus diestimasi dengan tepat. Selain itu, pemerintah juga mendorong Kemendag dan Kementan untuk mengadakan pertemuan bilateral guna mengevaluasi regulasi terkait hortikultura.

"Saya minta Kementerian Perdagangan berbaiki regulasi dan segera memasok untuk perbaiki harga," ujar Hatta di kantornya hari ini, Rabu (13/03/2013).
Hatta menegaskan regulasi yang perlu diperbaiki adalah yang terkait dengan hortikultura. Aturan tersebut termasuk Peraturan Menteri Pertanian No.60/2012 tentang Rekomendasi Impor Produk Hortikultura dan Peraturan Menteri Perdagangan No.60/2012 tentang Ketentuan Impor Produk Hortikultura.

"Itu menyangkut hortikultura yang rekomendasinya dari Pertanian, sedangkan eksekusinya dari Perdagangan. Dua kementerian ini harus membahas secara bilateral," tuturnya.
Perbaikan bilateral, kata Hatta, perlu dilakukan agar pembatasan impor hortikultura yang saat ini sedang diberlakukan tidak membentur aturan perdagangan internasional yang ditetapkan WTO, serta tetap menjaga keseimbangan permintaan dan pasokan.

"Nanti baru dibawa ke rapat koordinasi. Harus putus 1-2 hari ini, harus ada action," tegas Hatta.

Hatta mencontohkan sebagai negara yang hanya mampu memasok 5% kebutuhan bawang putih nasional, tidka tepat apabila importasi komoditas ini ditetapkan terlalu ketat.

"Produksi bawang putih kita hanya 5%, tentu tidak bisa terlalu restricted,  untuk memenuhi kebutuhan domestik ya tidak ada cara lain kecuali impor," katanya.
Pada kesempatan yang sama Deputi Menko bidang Pertanian dan Kelautan Diah Maulida menuturkan aturan impor hortikultura harus disusun dengan transparan, jelas, sederhana, memberikan kepastian, dan konsisten.

"Perbaikan ini juga termasuk waktu. Dalam aturan itu harus ditentukan soal waktu, rekomendasi impor harus terbit dalam sekian hari," ujarnya.
Diah menambahkan implementasi aturan tersebut mulai berdampak positif terhadap komoditas pertanian lokal, terutama buah-buahan. Namun, ada masalah terkait pasokan komoditas umbi-umbian yang merupakan tanaman musiman, seperti bawang.

"Buah-buahan lokal mulai ada perbaikan, ada kenaikan produksi dan ini mulai masuk ke pasar. Tapi kan ini regulasi baru jadi masih ada kendala di dalam," tutur Diah.


Source : Ana Noviani

Editor : Other

Ikuti berita Bisnis.com melalui smartphone Android dengan aplikasi Android Apps Bisnis.com. Download di Google Play!
 
Beli Buku, Data, ePaper, Indonesia Business Daily bisa dengan kartu kredit. Klik di sini!
Reader's Choice: Pilih Topik menarik untuk Diulas oleh Harian Bisnis Indonesia. Klik di sini!

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.