Kamis, 24 Juli 2014 RSS Feed Bisnis TV Photos ePaper Indonesia Business Daily

PERBANKAN SYARIAH: Maybank & BII Didorong Merger

Donald Banjarnahor   -   Minggu, 12 Mei 2013, 16:24 WIB

BERITA TERKAIT

BISNIS.COM, JAKARTA – Bank Indonesia mendorong PT Bank Maybank Syariah Indonesia melakukan merger dengan Unit Usaha syariah PT Bank Internasional Indonesia Tbk agar kedua bank itu dapat berperan dalam perkembangan industri perbankan syariah.

Direktur Eksekutif Perbankan Syariah BI Edy Setiadi mengatakan ada beberapa model dalam pengembangan Maybank Syariah dan BII Syariah yang keduanya dimiliki oleh Malayan Banking Berhad asal Malaysia

“Kami sudah memiliki aturan sendiri yakni single presence policy dan menurut aturan main holdingnya aadalah holding yang didirikan di Indonesia,” ujarnya akhir pekan lalu.

Menurut dia, model yang bisa diterapkan dalam mengembangkan kedua entitas syariah itu adalah dengan melakukan pemisahan (spin off) unit usaha syariah (UUS) BII dan kemudian bergabung ke Maybank syariah.

Model lain, lanjutnya, adalah BII mengakuisisi bank lain untuk dijadikan bank syariah dan menggabungkan UUS yang sudah ada saat ini kedalamnya. Hal ini akan membuat Malayan Banking Berhad memiliki dua bank syariah di Indonesia.

“Namun saya lebih senang kalau Maybank mengakuisisi BII syariah karena akan memperbesar perbankan syariah,” ujarnya.

Wacana penggabungan Maybank Syariah dan BII Syariah telah dilontarkan sejak 2011 lalu. Namun rencana ini belum terealisasi karena pihak menajemen masih mengkaji opsi model pengabungan yang akan dipakai.  (ra)


Editor : Rustam Agus

Siapa peraih GRAND PRIZE 1 UNIT MOTOR Tebak Skor & Juara Brasil 2014? Klik DI SINI!.
 

THR dari Bisnis Indonesia: Berlangganan ePaper seumur hidup hanya Rp10 juta. Terbatas hingga 31 Juli, klik DI SINI!.

Layak Disimak

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.