Minggu, 26 Oktober 2014 RSS Feed Bisnis TV Photos ePaper Indonesia Business Daily

Akuisisi BUMN, RNI Segera Akuisisi Kertas Leces

Bambang Supriyanto   -   Kamis, 28 November 2013, 14:25 WIB

BERITA TERKAIT

/Bumn.go.id
Bumn.go.id

Bisnis.com, JAKARTA - PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) Persero akan mengakuisisi pabrik kertas terpadu PT Kertas Leces (Persero) untuk membangkitkan kembali perusahaan tersebut.

"RNI sudah menyampaikan usulan untuk mengambilalih Kertas Leces. Usulan kami terima tinggal menetapkan prosedur pengambilalihannya saja," kata Menteri BUMN Dahlan Iskan setelah Rapat Pimpinan Kementerian BUMN di Pusdiklat Bank BRI, Ragunan, Kamis (28/11).

Menurut Dahlan, Kementerian mendukung penyelematan Kertas Leces, karena perusahaan ini dalam kondisi sulit untuk beroperasi secara normal.

"Saat ini total utang Leces mencapai sekitar Rp1,5 triliun, terdiri atas utang kepada negara termasuk kepada pihak ketiga seperti kepada keluarga Endang Mokodompit yang mencapai sekitar Rp800 miliar," ujarnya.

Namun, kata Dahlan, dalam hal pengambilalihan Leces, nantinya akan ditinjau kembali apakah utang-utang tersebut benar-benar ada, atau utang karena "permainan" di masa lalu.

"Kalau utang kepada negara bisa dijadikan saham, tapi utang kepada pihak ketiga harus diklarifikasi kembali," ujarnya.

Sesungguhnya, ujar Dahlan, Leces merupakan salah satu BUMN yang masuk dalam program revitalisasi dan restrukturisasi, namun belum menunjukkan kemajuan, karena masih tetap dalam kondisi kesulitan keuangan untuk operasional.

Mantan Dirut PT PLN ini menuturkan, dalam usulan pengambilalihan tersebut, RNI akan membangun pabrik gula di Kertas Leces yang berlokasi di Probolinggo, Jawa Timur.

Pabrik kertas tertua kedua di Indonesia setelah Pabrik Kertas Padalarang ini memiliki lahan seluas 60 ha, sudah memiliki "boiler", gudang, dan rel kereta ke kompleks pabrik, jadi sangat bagus untuk dibangun pabrik gula.

"Ide yang bagus, karena pemerintah membutuhkan setidaknya 15 pabrik gula baru untuk memenuhi swasembada gula nasional," kata Dahlan tegas.

Meski begitu, Dahlan menambahkan harus dipastikan bahwa Leces ketika diambilalih RNI utangnya sudah diselesaikan, agar tidak menjadi beban RNI.

RNI Siap Sementara itu, Direktur Utama RNI Ismed Hasan Putro kepada Antara mengatakan siap mengakuisisi Kertas Leces.

"Beberapa hari lalu manajemen Kertas Leces sudah kita undang untuk memaparkan kondisi perusahaan yang sebenarnya. Berdasarkan itu pula kami segera menyelesaikan kajian untuk mengakuisisi Leces," kata Ismed.

Selanjutnya, menurut Ismed, RNI akan menyerahkan hasil kajian rencana akuisisi Leces kepada Kementerian BUMN selaku kuasa pemegang saham.

"Sama halnya dengan pemikiran pemegang saham, sebelum diakuisisi kami ingin Leces dalam kondisi "free and clear" alias bersih dari kewajiban," tegas Ismed.

Terkait dengan rencana bisnis yang akan diterapkan RNI dalam akuisisi Leces, ia mengatakan pabrik gula akan didirikan di lokasi pabrik kertas.

"Pabrik kertas Leces tetap ada, dengan pasokan bahan baku kertas dari ampas tebu pabrik gula. Ini akan lebih efisien dan mendatangkan keuntungan bagi Leces," ujarnya.

Ia menambahkan pasokan tebu untuk pabrik gula tersebut akan diperoleh dari para petani tebu di sekitar lokasi pabrik gula.

"Ini merupakan sinergi yang bagus, antara perusahaan dengan petani tebu di wilayah itu yang bisa meningkatkan kesejahteraan petani juga," ujarnya.

Saat ini RNI mengelola 10 pabrik gula yang tersebar di wilayah Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa Timur, serta beberapa pabrik yang mengolah produk hulu dan hilir berbasis tebu.

Total produksi gula RNI pada 2012 mencapai sekitar 168.000 ton, sedangkan pada 2013 ditargetkan bisa melewati angka 170.000 ton.


Source : Antara

Editor : Bambang Supriyanto

Ikuti berita Bisnis.com melalui smartphone Android dengan aplikasi Android Apps Bisnis.com. Download di Google Play!
 
Beli Buku, Data, ePaper, Indonesia Business Daily bisa dengan kartu kredit. Klik di sini!
Reader's Choice: Pilih Topik menarik untuk Diulas oleh Harian Bisnis Indonesia. Klik di sini!

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.