KABAR PASAR 23 NOVEMBER: Likuiditas Obligasi Bakal Melimpah, Holding Tambang Bidik Pendapatan US$22 Miliar

Berita tentang rencana penerapan kebijakan financing to funding ratio serta target pendapatan holding tambang menjadi sorotan sejumlah media massa hari ini, Kamis (23/11/2017).
Renat Sofie Andriani | 23 November 2017 08:23 WIB
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA – Berita tentang rencana penerapan kebijakan financing to funding ratio serta target pendapatan holding tambang menjadi sorotan sejumlah media massa hari ini, Kamis (23/11/2017).

Berikut rincian topik utama di sejumlah media nasional hari ini:

Likuiditas Obligasi Bakal Melimpah. Rencana Bank Indonesia untuk menerapkan kebijakan financing to funding ratio pada 2018 diyakini akan mengakselerasi likuiditas di pasar obligasi. (Bisnis Indonesia)

2019 Baru Bisa Digabung. Realisasi penggabungan PT Reasuransi Nasional Indonesia, anak usaha PT Askrindo (Persero), ke dalam PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero) diminta ditunda hingga 2019 lantaran portofolio bisnis kedua perusahaaan belum selaras. (Bisnis Indonesia)

Upaya Penegakan Hukum Jalan Terus. Implementasi Peraturan Menteri Keuangan No. 165/PMK.03/2017 sebagai perubahan kedua PMK 118/PMK.03/2016 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No.11/2016 tentang Pengampunan Pajak tak akan mengganggu penegakan hukum. (Bisnis Indonesia)

Satu Lagi Emiten Saham Tumbang. Daftar emiten yang terkena pailit bertambah. Pengadilan Niaga Jakarta Pusat menyatakan, PT Dwi Aneka Jaya Kemasindo Tbk. (DAJK) pailit demi hukum. (Kontan)

Holding Tambang Bidik Pendapatan US$22 Miliar. Holding BUMN pertambangan di bawah PT (Persero) Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) membidik pendapatan minimal sebesar US$22 miliar pada 2025 atau 16 kali lipat dari posisi saat ini sebesar US$1,41 miliar. (Investor Daily)

Tag : holding
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top