Trump Jalin Persahabatan Dengan Xi Jinping, 'Perang Tarif' Bakal Terselesaikan?

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengisyaratkan China akan mengurangi hambatan perdagangan. Dengan demikian, kedua negara dapat menyelesaikan perang tarif yang telah mengguncang pasar finansial beberapa waktu terakhir.
Renat Sofie Andriani | 09 April 2018 09:50 WIB
Presiden AS Donald Trump berinteraksi dengan Presiden China Xi Jinping di Mar-a-Lago, Palm Beach, Florida, AS, 6 April 2017. - .Reuters/Carlos Barria TPX

Kabar24.com, JAKARTA – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengisyaratkan China akan mengurangi hambatan perdagangan. Dengan demikian, kedua negara dapat menyelesaikan perang tarif yang telah mengguncang pasar finansial beberapa waktu terakhir.

Dalam akun Twitternya, Trump mengatakan dia dan Presiden China Xi Jinping akan selalu menjadi teman, tidak peduli apa yang terjadi dengan perselisihan mereka tentang perdagangan.

“China akan mengurangi hambatan perdagangannya karena itu adalah hal yang benar untuk dilakukan. Pajak akan menjadi timbal balik & kesepakatan akan dilakukan terhadap Kekayaan Intelektual. Masa depan yang luar biasa untuk kedua negara!” tulisnya.

Tidak dijelaskan mengapa ia optimistis tentang penyelesaian bentrokan perdagangan yang meningkat antara dua negara berkekuatan ekonomi terbesar di dunia tersebut.

Tahun lalu, AS membeli produk-produk asal China dengan nilai lebih dari US$500 miliar dan saat ini merencanakan atau mempertimbangkan penalti senilai sekitar US$150 miliar dari impor tersebut.

Di sisi lain, nilai ekspor AS ke China mencapai sekitar US$130 miliar pada 2017 dan menghadapi potensi kehancuran terhadap pasarnya di negeri Tirai Bambu jika China melancarkan aksi balas atas rencana pemberlakuan tarif impornya.

China telah berjanji akan melakukan serangan balik dengan kekuatan besar jika Trump memutuskan untuk menindaklanjuti rencana pengenaan tarif tambahan atas barang-barang China.

Perselisihan ini dimulai dengan keputusan Trump mengenakan tarif impor untuk produk baja dan aluminium masing-masing sebesar 25% dan 10% termasuk yang berasal dari China, pada Maret 2018.

Langkah Trump itu dibalas China dengan menjatuhkan tarif untuk impor daging babi, buah, kacang-kacangan, dan beberapa jenis wine asal negeri Paman Sam.

Kemudian Trump menandatangani tarif impor atas 1.300 produk dari China. Tarif impor sebesar 25% diajukan atas sejumlah produk teknologi industri, transportasi, dan medis, dengan nilai mencapai US$50 miliar.

Kurang dari 24 jam setelahnya, pada Rabu (4/4), China mengumumkan pengenaan tarif impor sebesar 25% untuk 106 produk impor dari AS bernilai mencapai US$50 miliar, di antaranya berupa kedelai, mobil, bahan kimia, pesawat terbang, dan jagung.

Yang terbaru, Trump telah memerintahkan US Trade Representative (USTR/Departemen Perdagangan AS) untuk mempertimbangkan tarif impor tambahan atas sejumlah produk China senilai US$100 miliar, pada Kamis (5/4/2018) waktu setempat.

Di sisi lain, sejumlah anggota kabinet pemerintahan Trump menyampaikan berbagai pendapat sehubungan dengan hal ini.

Menteri Keuangan Steven Mnuchin mengatakan dia sangat optimistis AS dan China dapat mencapai kesepakatan sebelum tarif apapun diberlakukan, meski juga tidak memungkiri adanya potensi perang dagang.

Adapun penasehat ekonomi Gedung Putih, Larry Kudlow, menyatakan AS tidak dalam situasi perang dagang. Alih-alih Trump, menurut Kudlow, China-lah yang menjadi sumber permasalahan.

 

Tag : Donald Trump, perang dagang AS vs China
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top