Deposito dan Obligasi Masih Jadi Andalan DPLK

Alokasi investasi dana pensiun lembaga keuangan (DPLK) pada deposito berjangka dan obligasi korporasi dinilai masih akan mengalami peningkatan signifikan di tengah penurunan porsi pada surat berharga negara (SBN).
Oktaviano DB Hana | 12 April 2018 08:48 WIB
Dana pensiun - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Alokasi investasi dana pensiun lembaga keuangan (DPLK) pada deposito berjangka dan obligasi korporasi dinilai masih akan mengalami peningkatan signifikan di tengah penurunan porsi pada surat berharga negara (SBN).

Wakil Ketua Perkumpulan Dana Pensiun Lembaga Keuangan (P – DPLK) Nur Hasan Kurniawan menjelaskan peningkatan alokasi investasi DPLK pada deposito memang terus terjadi, kendati sempat dihadapkan pada tren penurunan suku bunga perbankan. Para nasabah DPLK dinilai lebih cenderung menginginkan dana kelolaannya terjaga dengan imbal hasil yang relatif stabil.

Di sisi lain, dia menilai obligasi korporasi menjadi pilihan lain bagi nasabah untuk memacu imbal hasilnya.

“Deposito dan obligasi korporasi saya rasa masih akan terus bertumbuh alokasinya,” ungkap Nur Hasan kepada Bisnis, Rabu (11/4/2018).

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tentang statistik dana pensiun per Februari 2018 menunjukkan total investasi DPLK mencapai Rp76,09 triliun atau bertumbuh 16,2% secara year-on-year (yoy). Sekitar 58,14% investasi tersebut atau senilai Rp44,24 triliun ditempatkan pada deposito berjangka, sedangkan 16,64% lainnya di SBN dan 12,72% sisanya di obligasi korporasi.

Nilai investasi DPLK pada deposito berjangka dan obligasi korporasi masing-masing bertumbuh 22% dan 18,2% secara yoy, sedangkan alokasi dana pada SBN turun 3,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Nur Hasan memandang penurunan alokasi investasi pada SBN tersebut terjadi sejalan dengan imbal hasil instrumen yang dinilai cenderung mengecil.

“Tetapi, tetap ketiga instrumen itu jadi pilihan utama,” ungkapnya.

Tag : dana pensiun
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top