Pelaku Asuransi Jiwa Semakin Optimistis

Pemasaran asuransi jiwa dinilai masih potensial pada paruh pertama 2018. Potensi pertumbuhan ekonomi dinilai masih cukup terbuka dan adanya agenda pemilihan kepala daerah serentak di sejumlah wilayah dinilai mampu menjadi stimulus bagi konsumsi masyarakat.
Oktaviano DB Hana | 16 April 2018 06:48 WIB
/go2guys.co.nz

Bisnis.com, JAKARTA – Pemasaran asuransi jiwa dinilai masih potensial pada paruh pertama 2018. Potensi pertumbuhan ekonomi dinilai masih cukup terbuka dan adanya agenda pemilihan kepala daerah serentak di sejumlah wilayah dinilai mampu menjadi stimulus bagi konsumsi masyarakat.

Direktur Eksekuti Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Togar Pasaribu mengatakan pihaknya tetap optimstis dengan perkembangan ekonomi nasional pada tahun ini. Proyeksi yang dijabarkan oleh sejumlah lembaga multinasional, seperti Asian Development Bank dan World Bank, memberikan keyakinan akan peningkatan kinerja ekonomi nasional dan seluruh industrinya.

“Ekonomi nasional diyakini masih bertumbuh dari tahun lalu. Tidak ada kekhawatiran soal itu,” ungkapnya kepada Bisnis, sebagaimana dikutip Senin, (16/4/2018).

Togar mengatakan adanya perhelatan agenda politik pada tahun ini juga seharusnya menjadi pemicu bagi peningkatan konsumsi masyarakat. Dia meyakini belanja politik akan meningkatkan perekonomian nasional, termasuk untuk sektor asuransi jiwa.

Apalagi, dia menilai saat ini belanja politik tidak murah. Padahal, pemilihan kepala daerah pada 27 Juni 2018 ini akan dilakukan serentak di 171 daerah.

“Artinya tingkat konsumsi akan bagus. Belanja politik tidak murah.”

Terpisah, Chief Marketing Officer PT Sun Life Financial Indonesia (Sun Life) Shierly Ge mengatakan pihaknya juga optimistis menghadapi pasar asuransi kendati dihadapkan pada agenda politik nasional tersebut. Menurutnya, pihaknya meyakini momen tersebut akan tetap berimbas positif terhadap laju pertumbuhan industri asuransi.

Selain itu, jelasnya, perkembangan masyarakat kelas menengah masih terus berlanjut pada tahun ini.

“Pertumbuhan ekonomi yang stabil baik di kota-kota besar serta kota lapis kedua dan lapis ketiga juga berpotensi melahirkan masyarakat kelas menengah baru dengan daya beli yang lebih baik,” ungkapnya kepada Bisnis.

Shierly mengatakan pihaknya memproyeksikan pertumbuhan kinerja sejalan dengan prediksi (AAJI), yakni di kisaran 10% - 30%.

PERINGKAT UTANG

Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso kian optimistis dengan pertumbuhan industrI jasa keuangan sepanjang 2018, terutama setelah Moody’s Investor Service menaikkan peringkat utang Indonesia dari Baa3/outlook positif menjadi Baa2/outlook stabil.

Perubahan peringkat tersebut diyakinin akan berdampak positif mendorong pertumbuhan industri jasa keuangan dan stabilitas perekonomian Indonesia.

“Peningkatan rating Moody’s akan meningkatkan kepercayaan investor untuk berinvestasi di Indonesia termasuk di industri jasa keuangan khususnya di pasar modal,” ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (14/4/2018).

Wimboh juga meyakini perbaikan rating Moody’s ini juga menunjukkan kepercayaan akan stabilitas sistem keuangan nasional yang tetap terjaga, di tengah dinamika ekonomi global dan risiko geopolitik yang terjadi saat ini dan ke depan.

Seperti diketahui, Jumat (13/4/2018), lembaga pemeringkat menaikkan rating utang Indonesia atas dasar kerangka kebijakan Pemerintah Indonesia yang kredibel dan efektif yang kondusif bagi stabilitas makroekonomi.

“Fokus kebijakan yang kredibel pada kebijakan makroekonomi yang didukung oleh penyangga keuangan yang substansial mengurangi risiko depresiasi mata uang yang tajam dan berkelanjutan.”

Tag : asuransi jiwa
Editor : Anggi Oktarinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top