Setoran Dividen Emiten BUMN Tambang ke Negara Meroket, Ini Perinciannya!

Setoran dividen tiga perseroan tambang pelat merah PT Aneka Tambang Tbk., PT Bukit Asam Tbk., dan PT Timah Tbk. melonjak hingga 400% pada 2017.
M. Nurhadi Pratomo | 16 April 2018 23:03 WIB
Direktur Utama PT Timah Tbk. Mochtar Riza Pahlevi Tabrani (kedua kiri) memberikan paparan dalam jumpa pers rapat umum pemegang saham tahunan, di Jakarta, Senin (16/4/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA — Setoran dividen tiga perseroan tambang pelat merah PT Aneka Tambang Tbk., PT Bukit Asam Tbk., dan PT Timah Tbk. melonjak hingga 400% pada 2017.

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis.com, total pembayaran dividen ke negara tiga korporasi yang tergabung ke dalam Holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Tambang itu mencapai Rp2,52 triliun pada 2017. Jumlah tersebut melesat 436,17% dari periode sebelumnya Rp476,8 miliar.

Teranyar, rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) Timah, Senin (16/4/2018), memutuskan pembagian dividen 35% dari laba bersih 2017 senilai Rp502,43 miliar. Artinya, emiten berkode saham TINS itu akan menebar dividen Rp23,61 per saham.

Rasio pembayaran atau dividen payout ratio (DPR) periode 2017 lebih tinggi dibandingkan dengan tren 3 tahun sebelumnya. Berdasarkan data Bloomberg, perseroan pertambangan pelat merah tersebut rutin membagikan dividen dengan DPR 30% pada rentang 2014 hingga 2016.

Kepemilikan negara di TINS melalui PT Indonesia Asahan Alumunium (Persero), selaku induk Holding BUMN Tambang, mencapai 4.841.053.951 saham. Artinya, perseroan menyetor dividen sekitar Rp114,29 miliar kepada negara.

Jumlah tersebut tumbuh signifikan dibandingkan dengan setoran TINS kepada negara periode 2016. Pasalnya, perseroan hanya menyetorkan Rp49,10 miliar pada periode tersebut.

Di sisi lain, Aneka Tambang (Antam) akhirnya kembali membagikan dividen berdasarkan kinerja keuangan 2017. Perseroan tambang pelat merah itu tidak membagikan dividen pada 2016.

Dalam RUPST pekan lalu, disepakati bahwa emiten berkode saham ANTM itu akan mengalokasikan Rp35% dari laba bersih 2017 sebagai dividen kepada pemegang saham. Dengan demikian, perseroan akan membayarkan dividen Rp47 miliar atau Rp1,99 per saham.

Kondisi tersebut sejalan dengan kenaikan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk ANTM yang naik 110,63% secara tahunan pada 2017. Tercatat, laba bersih naik dari Rp64,81 miliar menjadi Rp136,51 miliar.

Dengan rasio kepemilikan negara melalui Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) di ANTM mencapai 15,61 miliar saham, setora dividen yang diterima Rp31,08 miliar.

Rasio pembayaran dividen terbesar ditempati oleh Bukit Asam. Emiten berkode saham PTBA itu sepakat menebar dividen 75% dari laba bersih 2017.

DPR tersebut naik tajam dari periode sebelumnya 30%. Dari situ, negara mendapatkan setoran dividen Rp2,38 triliun.

Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno mengatakan dividen yang didapat dari tiga anak usaha Holding BUMN Tambang tersebut akan disetor kepada pemerintah melalui Inalum. Jumlah yang diterima akan menjadi pendapatan pemerintah.

Fajar mengaku belum memasang target setoran dividen Holding BUMN Tambang kepada negara pada 2018. Akan tetapi, pihaknya menyebut memiliki sejumlah pertimbangan khusus.

“Yang selalu jadi pertimbangan adalah pay out ratio [POR] dilihat dari sisi investor, kesehatan perseroan, dan kemapuan perseroan,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (16/4).

Secara terpisah, Menteri BUMN Rini M. Soemarno mengatakan dividen yang disetorkan kepada Inalum tidak akan digunakan untuk mengakuisisi saham PT Freeport Indonesia. Dengan demikian, sepenuhnya akan diserahkan kepada negara.

“Tidak [dipakai untuk akuisisi Freeport]. Diserahkan ke Inalum kemudian ke negara sedangkan untuk akuisisi akan ada dari pinjaman,” jelasnya.

Frankie Wijoyo Prasetio, Head of Equity Trading Phintraco Sekuritas Medan menilai rasio pembayaran dividen emiten Holding BUMN Tambang menjadi daya tarik bagi investor. Pihaknya memperkirakan rasio dividend per share (DPS) yang tumbuh pesat pada 2017 bisa bertahan pada tahun ini.

Dia menilai keuntungan tiga emiten tersebut terkerek kenaikan harga komoditas pada tahun lalu. Akibatnya, laba bersih yang dikantongi melonjak tajam.

“Hal ini yang membuat pemerintah sanggup menarik dividen tinggi. Saya kira, pemerintah juga mempertimbangkan prospek usaha di mana perseroan seharusnya tidak terlalu terganggun dengan DPS yang tinggi,” tuturnya.

Tag : bumn, dividen
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top