Ekonomi Membaik, Utang Swasta Berpotensi Naik

Kendati posisi rasio utang luar negeri Indonesia terhadap PDB cukup sehat, pemerintah dan bank sentral perlu mengawasi utang luar negeri sektor swasta yang berpotensi meningkat sejalan dengan gairah aktivitas ekonomi dan pertumbuhan investasi tahun ini.
Hadijah Alaydrus | 17 April 2018 21:31 WIB
Ilustrasi - .Bloomberg
Bisnis.com, JAKARTA--Kendati posisi rasio utang luar negeri Indonesia terhadap PDB cukup sehat, pemerintah dan bank sentral perlu mengawasi utang luar negeri sektor swasta yang berpotensi meningkat sejalan dengan gairah aktivitas ekonomi dan pertumbuhan investasi tahun ini. 
 
Perkembangan utang luar negeri (ULN) cenderung sehat dimana rasio ULN Indonesia terhadap PDB pada bulan Februari tercatat sekitar 34,0%. Sementara itu, tren penurunan rasio utang terhadap pendapatan (ratio debt service ratio/DSR) juga diperkirakan akan kembali berlanjut yang mengindikasikan kemampuan membayar utang cenderung terus meningkat.
 
Ekonom PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede mengatakan pemerintah diharapkan terus berupaya dalam meningkatkan  penerimaan ekspor bisa meningkat lagi dengan tidak lagi mengandalkan ekspor komoditas dasar dan mengarahkan pada produk ekspor dengan nilai tambah yang lebih besar lagi untuk mengelola DSR ini.
 
"Dalam hal pengelolaan utang luar negeri, penggeseran beban utang dapat dilakukan melalui penataan ulang (reprofiling), penjadwalan kembali (rescheduling), dan restrukturisasi utang agar beban utang dapat didiversifikasi sesuai dengan maturitas jatuh temponya," papar Josua, Selasa (17/4).
 
Bank Indonesia (BI) melaporkan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada akhir Februari 2018 tumbuh melambat sebesar 9,5% (year on year/yoy), atau melambat dibanding bulan sebelumnya sebesar 10,4% (yoy). Dengan demikian, ULN per Februari 2018 tercatat menjadi US$356,2 miliar. Utang tersebut terdiri dari utang pemerintah dan bank sentral sebesar US$181,4 miliar, serta utang swasta sebesar US$174,8 miliar. 
 
ULN Indonesia per akhir Februari 2018 tersebut tumbuh sebesar 9,5% (yoy), melambat dibanding bulan sebelumnya sebesar 10,4% (yoy), disebabkan oleh melambatnya ULN baik sektor pemerintah maupun sektor swasta.
 
"Pengelolaan ULN pemerintah sejalan dengan kebijakan fiskal untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan kegiatan produktif dan investasi," tulis Bank Indonesia dalam laporan statistik ULN, Senin malam (16/4). 
 
Secara rinci, BI mencatat ULN pemerintah tercatat sebesar US$177,9 miliar dolar AS yang terdiri dari SBN (SUN dan SBSN/Sukuk Negara) yang dimiliki oleh non-residen sebesar US$121,5 miliar dolar dan pinjaman kreditur asing sebesar US$56,3 miliar. ULN Pemerintah pada akhir Februari 2018 tersebut lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya, terutama disebabkan oleh penurunan kepemilikan asing pada SBN domestik sebesar US$3,0 miliar. "Sementara itu, biaya ULN Pemerintah semakin rendah seiring dengan meningkatnya kepercayaan investor terhadap Indonesia, yang didukung oleh membaiknya fundamental perekonomian dan peringkat utang Indonesia," papar BI. 
Tag : utang luar negeri
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top