Lunch with CEO, Adrian Gunadi: Return Kami lebih Menarik

PT Investree Radhika Jaya atau Investree adalah salah satu perusahaan peer-to-peer lending yang dengan cepat mencuri perhatian publik. Model bisnis yang unik membuat Investree menjadi sarana penyalur pembiayaan sekaligus kesempatan investasi. Bisnis berkesempatan mewawancarai CEO & Co-Founder Investree Adrian Gunadi. Berikut petikannya.
Fitri Sartina Dewi/Thomas Mola | 23 Mei 2018 12:46 WIB
Adrian Gunadi, Co Founder & CEO PT Investree Radhika Jaya. - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – PT Investree Radhika Jaya atau Investree adalah salah satu perusahaan peer-to-peer lending yang dengan cepat mencuri perhatian publik. Model bisnis yang unik membuat Investree menjadi sarana penyalur pembiayaan sekaligus kesempatan investasi. Bisnis berkesempatan mewawancarai CEO & Co-Founder Investree Adrian Gunadi. Berikut laporan selengkapnya, yang telah dimuat di koran Bisnis Indonesia edisi Rabu 23 Mei 2018.

Bisakah Anda ceritakan perkembangan Investree hingga sejauh ini?

Kami memulai pada awal 2015. Saat itu lebih ke arah pengembangan model bisnis, sistem dan sebagainya. Kemudian, pada pertengahan 2016, kami launching sistemnya.

Jadi, operasional kami efektif berjalan pada Mei 2016, sudah genap 2 tahun kami beroperasi. Dari 2016 sampai sekarang, perkembangannya sudah cukup baik dari sisi bisnis, regulasi, dan dari sisi industri fintech (financial technology) secara keseluruhan.

Dalam kurun 2 tahun terakhir ini, total volume pinjaman yang kami fasilitasi sekitar Rp40 miliar, sekarang per bulan kami bicara pada angka Rp80 miliar hingga Rp100 miliar dalam waktu yang relatif singkat.

Itu menunjukkan dari sisi perkembangan bisnisnya, perkembangan regulator, dan perkembangan industrinya itu sendiri. Ketiga komponen itulah yang menyebabkan industri fintech cukup menarik di Indonesia.

Bagaimana ide awal pendirian Investree?

Konsep fintech di dunia sebenarnya sudah ada cukup lama. Beberapa pemain fintech di Amerika, China, atau Eropa itu rerata berdiri sejak 2008 hingga 2011.

Jadi, fintech lending sebagaimana bidang yang kami jalankan ini sudah ada sekitar 10 tahun lebih. Jadi ide awalnya, pada 2015 saya dengan ketiga partner saya punya ide kira-kira bisa tidak menjalankan fintech lending di Indonesia.

Berbekal pengalaman kami sebagai bankir, di situlah kami melihat peluang. Di Indonesia banyak segmen, khususnya UKM yang belum dilayani oleh sistem perbankan, karena mungkin belum memenuhi syarat atau ketentuan.

Padahal, sebenarnya UKM ini bagus, misalnya UKM yang punya kontrak dengan Unilever, Telkomsel, atau Sampoerna. Sebenarnya banyak UKM yang kecil-kecil seperti itu yang bisa kami garap, kasih akses pembiayaan dan pinjaman berupa modal kerja sehingga mereka bisa lebih berkembang.

Siapa yang akan mendanai mereka?

Nanti yang mendanani adalah para lender (pemberi pinjaman), yaitu orang yang mencari alternatif investasi lain selain deposito. Kami juga melihat potensi pasar di Indonesia masih jauh lebih menjanjikan, karena inklusi keuangan masih menjadi kendala utama.

Akses pinjaman untuk segmen UKM masih menjadi kendala. Baru sekitar 30% dari penetrasi kredit. Dari sisi jumlah pemilik rekening bank juga baru sekitar 50% dari total penduduk.

Mengapa Anda lebih memilih bergerak di bidang peer-to-peer lending?

Karena berbekal pengalaman, sebelumnya saat saya masih di perbankan juga saya lebih banyak memegang soal ritel dan korporasi. Dari situlah saya melihat adanya peluang untuk mendirikan startup.

Startup ini yang akan memberikan solusi berupa pinjaman bagi UKM yang selama ini belum terlayani oleh bank, ataupun yang sudah punya hubungan dengan bank, tetapi masih terbatas.

Itulah yang kami lihat bagaimana bisa menciptakan solusi ini dengan berbasis teknologi. Sekali lagi kami lihat, kalau basisnya tradisional seperti kantor-kantor cabang itu membutuhkan modal yang besar.

Itulah keunggulan dari teknologi, bahwa basis perusahaan kami masih teknologi. Itulah yang menjadi salah satu perbedaan kami sehingga membuat proses lebih cepat, lebih efisien, dan transparan.

Bagaimana profil borrower Investree saat ini?

Boleh dibilang hampir 2.000 pinjaman sudah kami fasilitasi. Kami lebih banyak menyalurkan pinjaman kepada UKM yang punya badan hukum. Kami ada dua produk utama, yaitu pinjaman berbasis invoice.

Jadi, UKM yang meminjam punya tagihan-tagihan yang bisa dimanfaatkan untuk dapat pinjaman melalui Investree, atau misalnya ada UKM yang berjualan melalui Tokopedia, Bukalapak, dan sebagainya, kami jalin kerja sama dengan marketplace untuk memfasilitasi pinjaman untuk UKM tersebut.

Bisa dibilang sekitar 95% lebih borrower kami ialah UKM. Kami memang fokusnya menyasar pelaku usaha kecil menengah.

Jumlah borrower kami terus bertambah, karena kami juga melakukan pengembangan kemitraan dengan e-commerce, dan berbagai korporasi lainnya. Uniknya, sekitar 30% dari segmen UKM tadi ialah di segmen ekonomi kreatif. Segmen-segmen industri jasa seperti iklan ataupun EO itulah yang banyak kami bantu.

Bagaimana pendekatan untuk meyakinkan masyarakat untuk menjadi lender?

Seperti startup lainnya, kami mulai dari teman dan keluarga dulu. Begitu mereka nyaman, barulah berkembang ke masyarakat umum. Akhirnya, lender-nya bersifat ritel. Setiap hari ada lender baru sekitar 50 hingga 100 orang. Total, lender kami sekarang sudah hampir 20.000 lebih di seluruh Indonesia.

Rata-rata pendanaan mereka itu sekitar Rp5 juta. Kalau minimum pendanaannya itu sebenarnya bisa dari Rp1 juta. Kalau bicara usia, ada yang 18 tahun hingga 74 tahun, tetapi rata-rata lender kami usia 32 tahun.

Seiring dengan volume kami yang terus meningkat, sekarang juga masuk institusi sebagai lender kami, seperti bank, dan multifinance yang menjadi pemberi pinjaman.

Apa yang menarik minat bank dan multifinance tertarik menjadi lender?

Buat bank dan multifinance, mereka tertarik karena ujungnya biaya akuisisi yang lebih murah. Kalau selama ini bank punya cabang, di situ mereka punya AO yang selama ini memproses penyaluran kredit.

Sekarang kalau ada teknologi yang bisa membuat proses itu lebih cepat, mereka tentu melihat itu sebagai upaya efisiensi dengan biaya akuisisi yang lebih rendah.

Fenomena ini sama seperti di negara lain juga yang bermula dari teman dan keluarga. Lalu bergerak ke ritel, dan akhirnya mengarah ke institusi, karena volumenya bertambah terus.

Apa nilai lebih yang ditawarkan Investree kepada para lender?

Menurut saya, para pemberi pinjaman melihat return yang menarik jika dibandingkan dengan deposito. Rata-rata return yang kami tawarkan 15% sampai 16%, sedangkan deposito 5% sampai 6%.

Dengan tawaran return yang cukup tinggi, bagaimana dengan mitigasi risikonya?

Untuk strategi mitigasi risikonya, pertama kami mengandalkan adanya invoice. Jadi yang belum punya tagihan atau kontrak mau masuk ke kami itu belum bisa.

Selama ini, kasus gagal bayar juga belum ada atau masih 0%. Masalah telat pembayaran memang pernah ada, tetapi yang namanya gagal bayar sampa saat ini belum ada, dan capaian itu akan terus kami pertahankan. Kami berupaya menyeimbangkan pertumbuhan pembiayaan, dengan kualitas aset.

Ketika awal beroperasi adakah kesulitan untuk menembus pasar?

Kami punya kelebihan berupa pengalaman di bidang perbankan sebelumnya, sehingga kami sudah punya jaringan. Pertama, untuk menembus pasar tentu perlu jaringan untuk business development.

Kedua, saya bersama dengan tim mulai melakukan penjualan, edukasi, dan sosialisasi. Ketiga, mulai rekrut tenaga marketing. Sejumlah tenaga marketing yang kami rekrut itu memang banyak yang dari bank, karena mereka punya pengalaman dan network. Itu menjadi salah satu strategi yang kami lakukan.

Keempat, setelah punya basis itu, strategi berikutnya ialah melakukan iklan melalui digital. Strategi sales kami memang B to B , berbeda dengan e-commerce yang strateginya lebih B to C .

Dengan strategi B to B, cost terbesar adalah untuk SDM, karena mereka yang akan menggarap pasar tersebut. Begitu punya tenaga marketing, berikutnya kami melakukan kerja sama melalui partnership dengan berbagai pihak.

Apa saja tantangannya?

Yang menjadi tantangan ialah pada saat awal kami beroperasi belum ada regulasi yang mengatur. Di situlah peranan asosiasi untuk mengadakan diskusi dengan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) hingga akhirnya membuahkan hasil POJK No.77/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi. POJK itulah yang menjadi payung hukum bagi para pemain seperti kami.

Bagaimana Anda melihat persaingan di sektor fintech lending?

Jumlah pemainnya memang terus bertambah. Boleh dibilang semakin banyak pemain itu juga semakin bagus untuk industri, karena potensi pasarnya masih sangat luas. Tidak mungkin hanya didominasi oleh satu atau dua pemain.

Di mana posisi Investree pada industri?

Pangsa pasar kami sendiri sekitar 25% sampai dengan 30%. Jadi menurut saya, kami salah satu pemain yang dominan di pasar ini. Kami tidak berhenti di Jakarta saja. Kami juga memiliki strategi ekspansi untuk ke Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Untuk di luar Jawa juga kami sudah kerja sama dengan BPD Sumut.

Di luar negeri, kami bahkan juga sudah jalan. Kami kerja sama dengan mitra lokal yang lebih paham regulasi dan kondisi pasar di sana.

Pada semester II/2018, kami rencanakan masuk di Thailand dan Vietnam. Ujung-ujungnya produk yang kami jalankan di sini, relatif dengan mudah diluncurkan di beberapa negara dengan produk pembiayaan UKM berbasis invoice.

Apakah beberapa negara yang akan dirambah itu sudah memiliki aturan mengenai fintech lending?

Belum, justru POJK No.77/2016 yang sudah ada di Indonesia itu dianggap sebagai terobosan, dan menjadi milestone penting bagi industri fintech di Indonesia. Justru banyak negara lain yang belajar dari Indonesia karena kita termasuk salah satu negara dengan aturan peer-to-peer lending yang sudah progresif.

Bagaimana dengan rencana ekspansi di luar pasar di Asia Tenggara?

Untuk ekspansi di luar Asia Tenggara tergantung, kalau ada peluang kami inginnya bermitra. Tidak harus menjadi mayoritas, tergantung negosiasi, tetapi menurut saya jadi minoritas pun tidak masalah asalkan mitra lokal kami bisa memberikan nilai tambah.

Selain di Asia Tenggara yang UKM-nya tumbuh berkembang, tidak menutup kemungkinan kami melirik pasar di Timur Tengah. Kalau mau jadi pemain global sangat memungkinkan.

Adakah peluang menjalankan kegiatan usaha lain selain peer-to-peer lending?

Kami sudah ditunjuk pemerintah untuk mendistribusikan Surat Berharga Negara (SBN) ritel. Dengan ditunjuknya Investree, pemerintah mencari cara yang lebih efisien untuk mendistribusikan SBN ritel secara online.

Setelah itu kami juga menjajaki peluang untuk masuk ke asset management. Kami pelajari profil orang-orang untuk investasi. Jadi platformnya tidak hanya menjangkau untuk pinjaman UKM, tetapi juga merambah ke SBN, dan masih ada peluang untuk terus bergerak ke depannya.

 

BIODATA

Nama: Adrian Gunadi

Tempat Tanggal Lahir: Jakarta, 3 Januari 1976

Riwayat Pendidikan:

Bachelor Degree, Accounting Universitas Indonesia (1995—1999)

Master of Business Admonostration, Finance and Financial Management Services Rotterdam School of Management Erasmus University (2002—2003)

Riwayat Karir:

Co Founder & CEO PT Investree Radhika Jaya (2015—Sekarang)

Managing Director, Retail Banking PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. (2009—2015)

Head of Sharia Banking Permata Bank (2007—2009)

Product Structuring Standard Chartered Bank (2005—2007)

Cash & Trade Product Manager Citi (1998—2002)

 

Tag : fintech
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top