BI Agresif Jaga Defisit Transaksi Berjalan

Kenaikan suku bunga acuan di luar ekspektasi pasar sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6% dinilai sebagai upaya untuk mengontrol defisit transaksi berjalan.
Hadijah Alaydrus | 15 November 2018 16:23 WIB
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (tengah) berbincang dengan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara (kanan), disaksikan Deputi Gubernur Erwin Rijanto, sebelum penjelasan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia, di Jakarta, Jumat (29/6). - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA -- Kenaikan suku bunga acuan di luar ekspektasi pasar sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6% dinilai sebagai upaya untuk mengontrol defisit transaksi berjalan.

Seperti diketahui, defisit transaksi berjalan pada kuartal III/2018  tercatat meningkat hingga 3,37% terhadap PDB atau US$8,8 miliar. Defisit ini melebar dari defisit kuartal II/2018 yang sebesar US$8 miliar atau 3,02% terhadap PDB.

Ekonom PT Bank Danamon Tbk. Wisnu Wardana menuturkan keputusan Bank Indonesia (BI) tersebut dibuat untuk menjaga defisit transaksi berjalan sesuai targetnya pada tahun depan, yakni di bawah 2,5% terhadap PDB. Hal ini juga diperkuat dengan pengumuman neraca perdagangan pada Oktober 2018 yang mengalami defisit sebesar US$1,81 miliar.

"Kami pikir bank sentral mencoba untuk menyeimbangkan antara kuatnya permintaan domestik yang mendorong ketidakseimbangan di dalam external account dan pergerakan rupiah," ujarnya, Kamis (15/11/2018).

Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. David Sumual menegaskan defisit neraca perdagangan pada Oktober 2018 yang melebihi ekspektasi membuat bank sentral mengambil keputusan menaikkan suku bunga agar target defisit transaksi berjalan bisa tetap dijaga di bawah 3%.

"Tahun depan pun target defisit transaksi berjalan turun di bawah 2,5%," ungkapnya.

Sementara itu, Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo menerangkan bank sentral fokus untuk meyakinkan bahwa defisit transaksi berjalan ke depannya akan berada di dalam batas aman.

"Mengingat potensi defisit yang besar tetap terjadi karena pertumbuhan impor masih di atas ekspor," tuturnya.

Selanjutnya, kebijakan kenaikan suku bunga ini juga dilakukan untuk mendorong daya tarik bagi aset keuangan domestik dibanding negara lainnya. Pasalnya, aliran modal ke negara berkembang masih terbatas.

Terakhir, kenaikan 7-Day Reverse Repo (7-DRR) Rate merupakan antisipasi kenaikan suku bunga global yang meningkat sejalan dengan kenaikan Fed Fund Rate (FFR). 

Tag : bank indonesia, defisit transaksi berjalan
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top