OJK Yakin Likuiditas Bakal Mengikuti Pertumbuhan Kredit

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan penghimpunan dana pihak ketiga bisa mengimbangi pertumbuhan kredit seiring dengan tren kenaikan pada akhir tahun. Bahkan, pada tahun depan likuiditas perbankan diyakini bisa tumbuh dua digit.OJK
Muhammad Khadafi & Nirmala Aninda | 05 Desember 2018 16:51 WIB
Nasabah melakukan transaksi perbankan di galeri Anjungan Tunai Mandiri (ATM) di salah satu pusat perbelanjaan di Bandung, Jawa Barat, Senin (3/9/2018). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan penghimpunan dana pihak ketiga bisa mengimbangi pertumbuhan kredit seiring dengan tren kenaikan pada akhir tahun. Bahkan, pada tahun depan likuiditas perbankan diyakini bisa tumbuh dua digit.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso memproyeksikan, pada akhir tahun ini penghimpunan dana oleh bank akan naik sekitar 8%—9% secara tahunan (year-on-year/yoy). Bahkan tahun depan akan tumbuh lebih dari 10% yoy.

“Begitu capital inflow [modal masuk], DPK [dana pihak ketiga] akan naik,” katanya kepada Bisnis di Jakarta, Selasa (4/12/2018).

Sepanjang tahun ini DPK menjadi satu isu perbankan. Pasalnya, hal ini menyebabkan rasio kredit terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) naik menjadi 94,09% per September 2018. Padahal sepanjang 2017, LDR tidak pernah melampaui batas atas yang ditetapkan OJK sebesar 92%.

Berdasarkan data otoritas, sejak paruh pertama tahun ini, pertumbuhan dana yang dihimpun dari masyarakat ini stagnan di kisaran 6%. Namun, per Oktober 2018 DPK tumbuh 7,3% menjadi Rp5.387 triliun.

Akan tetapi, tidak semua membukukan perbaikan pertumbuhan dana. PT Bank Central Asia Tbk. justru mencatat perlambatan per Oktober 2018.

Sekretaris BCA Jan Hendra mengatakan bahwa 2 bulan lalu penghimpunan dana nasabah naik 6,1% yoy menjadi Rp616 triliun. Dana murah (current account saving account/CASA) masih menjadi kontributor utama dengan pertumbuhan sebesar 9,4%.

“Kami tetap fokus pada pengumpulan CASA untuk menunjang pertumbuhan DPK ke depan. Saat ini rasio CASA [terhadap DPK[ sekitar 78%,” katanya.

Sebelumnya pada akhir kuartal ketiga, perseroan mencatatkan DPK sebesar Rp613,9 triliun atau naik 6,9% yoy, pertumbuhan itu sedikit lebih baik jika dibandingkan pada Oktober. Pada saat deposito turun 6,4% yoy, dana murah naik 11,4% yoy.

Sementara itu, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. masih berupaya menggenjot DPK pada tahun ini. Sejauh ini deposito masih mendominasi pertumbuhan.

Direktur Keuangan dan Tresuri BTN Iman Nugroho Soeko mengatakan bahwa perseroan menargetkan pertumbuhan DPK sekitar 19%. Laporan terakhir per Oktober, dana nasabah naik 13,3% menjadi Rp178 triliun.

“Sampai akhir tahun pertumbuhan DPK diharapkan lebih berimbang [antara dana murah dan mahal,” katanya.

Tag : likuiditas
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top