Indonesia Rancang Strategi Keluar dari Middle Income Trap

Pemerintah menargetkan Indonesia dapat keluar dari jebakan pendapatan kelas menengah (middle income trap) pada 2045 bertepatan dengan perayaan 100 tahun kemerdekaan RI.
Achmad Aris | 06 Desember 2018 12:01 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (dari kiri) bersama Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menjadi pembicara saat acara CEO Networking 2018 di Jakarta, Senin (3/12/2018). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, NUSA DUA, Bali — Pemerintah menargetkan Indonesia dapat keluar dari jebakan pendapatan kelas menengah (middle income trap) pada 2045 bertepatan dengan perayaan 100 tahun kemerdekaan RI.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan strategi untuk keluar dari middle income trap tersebut sudah tercermin ke dalam design kebijakan pemerintah saat ini.

“Presiden Jokowi menggeser fokus investasi dari infrastruktur ke human resources investment. Dengan demikian Indonesia bisa keluar dari midele income trap pada 2045 saat perayaan 100 tahun kemerdekaan,” katanya saat memberikan sambutan dalam acara The 8th Annual International Forum on Economic Development and Public Policy (AIFED) di Nusa Dua, Bali, Kamis (6/12/2018).

Menurutnya, terdapat empat syarat agar Indonesia bisa keluar dari middle income trap yakni pertama, pembangunan manusia dengan meningkatkan produktivitas. “Makanya sekarang fokus ke SDM tidak hanya pendidikan dan safety net, tetapi juga skill.

Kedua, jelasnya, pembangunan infrastruktur karena ketesedian infrastruktur akan mendorong daya saing dan produktivitas ekonomi di dalam negeri. “Negara yang bisa escape adalah yang bisa menaikkan produktivitasnya. Apalagi untuk Indonesia yang negara kepulauan,” ujarnya.

Ketiga, sambungnya, peningkatan kualitas institusi mulai dari birokrasi, antikorupsi, efisiensi, dan kompetensi. Menurutnya, negara-negara yang sudah keluar dari middle income trap seperti Jepang, Hong Kong, Taiwan, Israel, dan Korea, umumnya mereka sudah memiliki birokrasi yang berkualitas baik dari sisi pemerintah maupun swasta.

“Makanya reformasi birokrasi itu penting sekali. Dan Kemenkeu selama ini menjadi institusi yang sudah melakukannya.”

Adapun syarat yang keempat, kata Sri Mulyani, adalah terkait dengan policy yang terbuka. “Negara-negara yang melewati middle income trap adalah negara yang selalu terbuka dan mampu memanfaatkan globalisasi untuk mendorong daya saing. Tidak ada negara yang tertutup bisa lewat middle income trap,” tegasnya.

Oleh karena itu, Menkeu berharap melalui forum AIFED yang mengambil tema “Building for the Future: Strengthening Economic Transformation in Facing Forward Global Evolution”, dapat dirumuskan strategi kebijakan guna menghadapi berbagai tantangan dalam rangka mencapai target keluar dari middle income trap pada 2045.

Pada kesempatan tersebut, Sri Mulyani menyampaikan pandangannya tentang potensi dan tantangan transformasi struktural ekonomi global serta implikasinya terhadap proses transformasi ekonomi Indonesia. Faktor melimpahnya sumber daya manusia produktif dan meningkatnya kemajuan teknologi harus dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk memacu produktivitas, sehingga mendukung transformasi ekonomi mengarah pada status negara maju.

“Untuk mencapai hal tersebut, peningkatan investasi pada pembangunan infrastruktur dan peningkatan kualitas sumber daya manusia [human capital] akan terus menjadi prioritas,” ujarnya.

AIFED merupakan kegiatan tahunan yang dilaksanakan atas kerja sama Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dengan Asian Development Bank dan Pemerintah Australia (melalui Program Kemitraan Indonesia Australia untuk Perekonomian/PROSPERA).

Penyelenggaraan AIFED bertujuan untuk mendapatkan gambaran komprehensif mengenai transformasi ekonomi Indonesia dalam konteks perubahan lanskap global, serta upaya kebijakan yang diperlukan untuk menyongsong Indonesia maju.

Forum AIFED merupakan sarana bagi para pembuat kebijakan untuk berkolaborasi dengan para akademisi, pelaku usaha, dan institusi internasional untuk mengidentifikasi tantangan yang akan dihadapi serta menyiapkan strategi kebijakan yang mampu memanfaatkan potensi profil demografi dan kemajuan teknologi guna mewujudkan visi transformasi ekonomi Indonesia menjadi negara maju.

Penyelenggaraan AIFED tahun ini merupakan yang ke-8 sejak pertama kali diadakan tahun 2011. AIFED selalu menghadirkan narasumber terkemuka dari berbagai institusi internasional dengan berbagai latar belakang akademisi dan kepakaran.

Pada kesempatan kali ini, keynote speakers yang dihadirkan adalah Prof. Robert Lawrence dari Harvard Kenedy School of Government. Di samping itu, AIFED kali ini juga menghadirkan tiga pengusaha muda Indonesia sebagai young influencer untuk berbagi pengalaman dalam pengembangan usaha di bidangnya masing-masing serta menuangkan gagasan untuk kemajuan ekonomi Indonesia pada masa depan.

Bersamaan dengan pelaksanaan AIFED, rangkaian kegiatan Fiscal Day juga diselenggarakan dalam rangka menyosialisasikan kepada masyarakat peranan Kemenkeu, khususnya Badan Kebijakan Fiskal dalam merumuskan kebijakan fiskal untuk mewujudkan masyarakat Indonesia sejahtera.

Tag : sri mulyani, ekonomi indonesia
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top