Mirza: Pelemahan Rupiah Pekan Ini Dipicu Faktor Global

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara menyebutkan pelemahan nilai tukar pada pekan ini disebabkan oleh faktor global, salah satunya sentimen perang dagang AS-China yang belum juga reda. 
Hadijah Alaydrus | 07 Desember 2018 16:04 WIB
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara (kiri) didampingi Deputi Gubernur Sugeng memberikan penjelasan mengenai hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia, di Jakarta, Selasa (23/10/2018). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara menyebutkan pelemahan nilai tukar pada pekan ini disebabkan oleh faktor global, salah satunya sentimen perang dagang AS-China yang belum juga reda. 

"Interpretasi pasar perang dagang AS dan China belum mereda. Kemarin ditangkapnya ada direktur Huawei di Kanada dan akan di ekstaradiksi ke AS. Itu mencerminkan perang dagang AS dan China belum mereda," ujar Mirza, Jumat (12/7/2018). 

Selain itu, pasar mengkhawatirkan perang dagang akan memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia. Kondisi pasar tersebut ditambah lagi dengan adanya kekhawatiran lain terkait respon dari bank sentral China yang diduga akan melakukan depresiasi yuan. Tentu saja, kebijakan tersebut akan memicu depresiasi lanjutan bagi kurs di negara berkembang. 

Dari pasar saham sendiri, pasar cukup bereaksi dengan sinyal perlambatan pertumbuhan ekonomi AS yang dapat menekan pertumbuhan laba perusahaan di AS.  "Nah pasar saham bereaksi jadi kita liat beberapa hari terakhir terjadi penjualan saham di global dan terjadi penjualan saham di AS," tegas Mirza.

Kondisi ini, kata Mirza, menular kepada penjualan saham di pasar negara berkembang termasuk Indonesia. Selain pasar saham AS, tanda-tanda perlambatan muncul dari yield curve atau kurva surat utang AS yang turun.

"Itu yang kira-kira, kami melihat kenapa terjadi pelemahan kurs di negara berkembang. Kemarin sempat menguat dan melemah saya menjelaskan itu karena fenomena global," kata Mirza. 

Sementara itu, pelemahan kurs Indonesia dan India memang agak lebih besar dalam dua hari terakhir dibandingkan kurs negara lain. Hal tersebut, lanjut Mirza, disebabkan karena defisit transaksi berjalan yang dialami keduanya sehingga pasar bereaksi lebih banyak. 

Oleh sebab itu, Mirza mengingatkan agar Indonesia jangan terlena dengan penguatan kurs karena persoalan defisit transaksi berjalan ini harus diselesaikan. "Terus mendorong peningkatan ekspor, pariwisata dan mengendalikan impor yang tidak perlu. Tapi kalau impor yang perlu ya seperti bahan pangan, produksi dalam negeri kurang," ungkap Mirza. 

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top