Peningkatan Cadangan Devisa tak Signifikan, Kuncinya di Penurunan CAD

Peningkatan cadangan devisa hingga US$2 miliar dinilai tidak akan memberikan dampak perekonomian yang signifikan. Sebab, sentimen positif dalam negeri masih menghadapi sentimen global yang memicu arus modal keluar.
Rinaldi Mohammad Azka | 07 Desember 2018 18:19 WIB
Cadangan devisa dan neraca perdagangan RI semester pertama 2018. - Bisnis/Radityo Eko

Bisnis.com, JAKARTA – Peningkatan cadangan devisa hingga US$2 miliar dinilai tidak akan memberikan dampak perekonomian yang signifikan. Sebab, sentimen positif dalam negeri masih menghadapi sentimen global yang memicu arus modal keluar.

Dengan demikian, pemerintah disarankan benar-benar berkomitmen memperbaiki defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD), karena CAD menjadi penyebab ekonomi rentan.

Cadangan devisa naik US$2 miliar menjadi US$117,2 miliar pada akhir November 2018, dibandingkan dengan US$115,2 miliar pada bulan sebelumnya. 

Direktur Penelitian Center of Reform for Economics (Core) Indonesia, Piter Abdullah menuturkan peningkatan cadangan devisa (cadev) lebih disebabkan strategi frontloading APBN 2019 dimana pemerintah menerbitkan SUN global senilai US$3 miliar bukan murni dari arus modal masuk.

Menurutnya, kenaikan cadev memang menambah sentimen positif terkait kondisi ekonomi domestik, demikian juga dengan penerimaan negara yang diproyeksi melewati target. Namun, lanjutnya, ekonomi Indonesia khususnya rupiah masih sangat rentan terhadap isu global.

"Kenaikan cadev tidak akan banyak berdampak ke perekonomian, cadev yang meningkat dan penerimaan di atas target tidak berarti apa-apa ketika ada isu global yang menarik keluar modal asing. Saat itu terjadi rupiah akan terpuruk," ungkapnya saat dihubungi Bisnis, Jumat (7/12/2018).

Piter menilai sumber masalah perekonomian tetap kondisi CAD yang menunjukkan kebutuhan akan dolar masih belum terpenuhi.

"Pemerintah hendaknya fokus dan benar-benar berkomitmen memperbaiki CAD. Saya melihat pemerintah belum punya komitmen dan belum fokus untuj memperbaiki CAD," terangnya.

Pasalnya, menurut Piter kebijakan dalam menyelesaikan permasalahan CAD masih sangat parsial dan belum ada strategi besar langkah apa saja yang akan dilakukan untuk memperbaiki CAD. "Yang dilakukan sejauh ini masih sangat parsial," imbuhnya.

Dengan demikian, dia menyarankan pemerintah harus membuat peta jalan atau roadmap yang jelas dalam mengatasi permasalah CAD ini. Dengan begitu, terdapat identifikasi masalah penyebab CAD, solusinya serta rincian program penyelesaiannya seperti apa.

Defisit neraca transaksi berjalan pada kuartal III/2018 tercatat meningkat hingga 3,37% terhadap PDB atau US$8,8 miliar. Defisit ini melebar dari defisit kuartal II/2018 sebelumnya sebesar US$8,0 miliar atau 3,02% terhadap PDB. 

Dengan perkembangan tersebut, Bank Indonesia mencatat secara kumulatif defisit neraca transaksi berjalan hingga kuartal III/2018 tercatat 2,86% PDB.

Adapun transaksi modal dan finansial pada kuartal III/2018 laporan mencatat surplus US$4,2 miliar. Dengan demikian, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal III/2018 mengalami defisit sebesar US$4,4 miliar. 

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top