Bank di Bandung incar pertumbuhan 25%

BANDUNG: Beberapa perbankan di Bandung memproyeksikan penyaluran kredit pada 2011 bisa tumbuh hingga 25% seiring dengan meningkatnya kebutuhan pinjaman untuk modal usaha.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 27 Desember 2010  |  10:48 WIB

BANDUNG: Beberapa perbankan di Bandung memproyeksikan penyaluran kredit pada 2011 bisa tumbuh hingga 25% seiring dengan meningkatnya kebutuhan pinjaman untuk modal usaha.

Pemimpin Wilayah Jabar Bank Danamon Arief Setyahadi mengatakan proyeksi pertumbuhan pinjaman itu merujuk pada semakin besarnya kebutuhan pinjaman, terutama dari pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) dan potensi pertumbuhan ekonomi pada tahun depan.

Kondisi ekonomi pada 2011 diduga akan lebih baik dibandingkan dengan tahun ini, sehingga pertumbuhan kreditnya pun akan lebih tinggi lagi, katanya, hari ini.

Arief mengatakan bank yang dikelolanya menyiapkan berbagai strategi untuk memacu pertumbuhan bisnis, seperti menambah jaringan kantor dan menawarkan insentif bagi nasabah dengan menawarkan hadiah.

Danamon akan membuka tiga cabang baru di luar kota dan lima cabang baru khusus untuk menggarap sektor mikro, katanya.

Kepala Cabang Utama Bandung Bank Panin Gino Alimjusono mengatakan permintaan kredit selalu meningkat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi.

Sepanjang 2010 pertumbuhan kredit produktif tidak terlalu tinggi. Kemungkinan, pelaku usaha memilih menunda mengajukan pinjaman sambil melihat kondisi pasar, katanya.

Dia mengatakan relatif terjaganya inflasi dan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) yang tetap berada pada level 6,5% mengindikasikan makroekonomi Indonesia masih relatif baik. Hal ini membuat pelaku usaha sektor riil memiliki kesempatan untuk ekspansi bisnis, terutama dengan mengajukan suntikan modal kepada perbankan.

Kami menduga pertumbuhan kredit produktif pada 2011 lebih tinggi dibandingkan dengan pinjaman konsumtif, katanya.

Gino memprediksi pertumbuhan kredit pada 2011 terjadi karena banyaknya pelaku usaha yang mulai berani berhubungan dengan bank ditambah dengan debitur lama yang mengajukan penambahan plafon (top up).

Komposisinya kemungkinan seimbang antara pengajuan baru dan top up. Kami menggarap keduanya untuk menopang pertumbuhan pinjaman, katanya.(mmh)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Intan Permatasari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top