Kenapa bunga dasar kredit BTPN jadi yang tertinggi?

JAKARTA: Tingginya suku bunga dasar kredit PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk diklaim merupakan konsekuensi perseroan yang fokus pada pembiayaan sektor usaha mikro, kecil dan menengah.Suku bunga dasar kredit (SBDK) BTPN seperti dikutip dari situs
News Editor
News Editor - Bisnis.com 19 Juli 2011  |  13:22 WIB

JAKARTA: Tingginya suku bunga dasar kredit PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk diklaim merupakan konsekuensi perseroan yang fokus pada pembiayaan sektor usaha mikro, kecil dan menengah.Suku bunga dasar kredit (SBDK) BTPN seperti dikutip dari situs perseroan mencapai 21,7% untuk pembiayaan ritel dan 20,7% untuk konsumsi non kredit Pemilikan Rumah (KPR).SBDK BTPN saat ini merupakan tertinggi dari 43 bank dengan aset diatas Rp10 triliun yang berkisar antara 9%-17,75% untuk kredit ritel dan 10,05%-15,7% untuk kredit korporasi.Selain itu, bunga kredit yang diterima nasabah, dari bank yang dikendalikan oleh David Bonderman melalui TPG Nusantara S.a.r.l., ini bisa lebih tinggi, karena SBDK belum memasukan komponen premi risiko.Jerry Ng, Direktur Utama BTPN mengatakan tingginya SBDK tersebut disebabkan oleh besarnya beban operasional karena perseroan memiliki 1.100 jaringan kantor. Kami memiliki 1100 kantor cabang sehingga operating cost tinggi. Kami memang sangat berbeda nature bisnisnya, ujarnya kepada Bisnis, hari ini.Direktur BTPN Anika Faisal mengatakan banyaknya jaringan kantor tersebut merupakan kebutuhan bagi perseroan yang fokus pada kredit UMKM, bukan korporasi. Kalau kami fokus ke [bisnis] korporasi maka tidak butuh cabang banyak. Kami paling besar people [pegawai] karena padat karya, ujarnya.Selain itu, tingginya SBDK dari perseroan karena sebagian besar dana pihak ketiga dari perseroan merupakan dana mahal. Kami 80% adalah deposito, 15% adalah casa [current account saving account] dan 5% adalah pendanaan lain seperti obligasi, ujar Ongki Wanadjati Dana, Wakil Direktur Utama BTPN.Berdasarkan laporan keuangan perseroan, pada semester I/2011, beban bunga perseroan mencapai Rp1,28 triliun untuk dana pihak ketiga yang sebesar Rp29,45 triliun.Perseroan menghabiskan dana untuk beban tenaga kerja sebesar Rp611 miliar dan Rp486,31 miliar untuk beban lainnya.BTPN juga memiliki program pemberdayaan nasabah dalam bidang kesehatan dan wirausaha yang menghabiskan dana antara 5%-6% dari belanja operasional pada tahun ini yang mencapai Rp2,2 triliun, atau sekitar Rp110 miliar-Rp132 miliar.Meski memiliki SBDK tertinggi, namun Anika menolak anggapan bahwa perseroan tidak efisien dalam menjalankan operasionalnya. Dia juga menolak apabila perseroan dibanding-bandingkan dengan bank yang tidak memiliki bisnis inti yang sama.Sebenarnya dari konteks dan kontennya dulu. BI [Bank Indonesia] belum berani bicara [mengenai SBDK] karena mereka harus memilah-milah. Kami selalu bilang jangan Apel sama jeruk dibanding-bandingkan, ujarnya.Menurut Anika, perseroan akan tetap mempertahankan deposito sebagai porsi terbesar dalam DPK, meskipun biaya dana yang dikeluarkan lebih tinggi dari tabungan. Kami akan terus begitu, karena BTPN bukan transaksional bank, ujarnya.BI mewajibkan bagi bank yang beraset diatas Rp10 triliun untuk mengumumkan SBDK sejak akhir Maret lalu, guna mendorong kompetisi antar bank serta efisiensi. Namun hingga saat ini bank sentral belum melakukan benchmarking terhadap SBDK, karena masih meragukan laporan dari beberapa bank. (faa)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Dara Aziliya

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top