Bankir syariah akan punya kurikulum manajemen risiko tersendiri

JAKARTA: Kurikulum sertifikasi manajemen risiko bagi bankir syariah akan bertambah seiring dengan rencana Bank Indonesia yang segera menerbitkan ketentuan manajemen risiko khusus perbankan syariah.Mulya Siregar, Direktur Perbankan Syariah Bank Indonesia
News Editor
News Editor - Bisnis.com 18 September 2011  |  17:29 WIB

JAKARTA: Kurikulum sertifikasi manajemen risiko bagi bankir syariah akan bertambah seiring dengan rencana Bank Indonesia yang segera menerbitkan ketentuan manajemen risiko khusus perbankan syariah.Mulya Siregar, Direktur Perbankan Syariah Bank Indonesia (BI), menyatakan bahwa modul pendidikan manajemen risiko bagi bankir syariah harus ditambah dengan materi equity investment risk dan rate of return risk. Kedua risiko tersebut masuk dalam ketentuan manajemen risiko perbankan syariah yang akan segera diterbitkan.“Pada dasarnya kalau dibandingkan dengan risiko bank konvensional itu hampir sama. Hanya yang berbeda dua risiko tersebut. Jadi dalam program sertifikasi nanti akan memasukan tambahan dua risiko tersebut,” ujarnya akhir pekan lalu.BI segera mengeluarkan aturan risk management khusus bagi bank syariah yang memuat 10 poin pengelolaan risiko, yakni delapan risiko yang sudah dikenal di konvensional dan dua lagi adalah equity investment risk dan rate of return risk.Equity investment risk merupakan pengelolaan risiko bagi pembiayaan dengan sistem bagi hasil (profit and loss sharing), yang umumnya digunakan pada akad mudharabah dan musyarakah.Dalam pembiayaan tersebut ada potensi dana bank akan hilang apabila debitur mengalami kerugian dalam usaha, sehingga yang terjadi bukan bagi hasil namun bagi kerugian.Sementara itu rate of return risk merupakan potensi risiko larinya dana pihak ketiga ke bank konvensional karena suku bunga yang ada di pasar melebihi imbal hasil yang diberikan bank syariah.Itu dapat terjadi karena imbal hasil simpanan pada bank syariah fluktuatif mengikuti kinerja dari pembiayaan, berbeda dengan bank konvensional yang telah mematok bunga tetap untuk dana pihak ketiga.D. Prayudha Moelyo, Kepala Unit Usaha Syariah PT Bank Danamon Indonesia Tbk, mengatakan dua risiko tersebut sudah seharusnya masuk dalam konten sertifikasi manajemen risiko. “Kelihatannya BSMR [Badan Sertfikasi Manajemen Risiko] dan lembaga lain sudah memasukan konten syariah,” ujar dia.Imam T. Saptono, Direktur PT Bank Negara Indonesia Syariah menilai saat ini belum diperlukan sertifikasi manajemen risiko khusus perbankan syariah. “Karena jumlahnya bank masih sedikit sehingga biayanya akan mahal apabila menyelenggarakan sertifikasi manajemen risiko khusus bank syariah,” ujarnya.Menurut dia, dua risiko baru tersebut bisa dimasukan dalam pelatihan sekelas workshop untuk menambah pengetahuan dan kemampuan para bankir syariah. “Mungkin kalau bank syariahnya sudah besar bisa dilakukan  manajemen risiko sendiri,” ujarnya.Selama ini materi sertifikasi manajemen risiko antara bankir konvensional dan syariah tidak berbeda. Hal tersebut disebabkan karena manajemen risiko kedua industri perbankan tersebut memiliki kesamaan dan mencakup 8 poin, yakni risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko operasional, risiko hukum, risiko reputasi, risiko strategi dan risiko kepatuhan.Sebelumnya sertifikasi manajemen risiko dilaksanakan oleh BSMR sebagai lembaga yang ditunjuk oleh bank sentral serta memperoleh lisensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Namun mulai 1 Oktober 2011, sertifikasi manajemen risiko akan dilakukan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Perbankan, yang berada di bawah Ikatan Bankir Indonesia. (faa)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Donald Banjarnahor

Editor : Dara Aziliya

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top