Belanja TI bank syariah masih rendah

JAKARTA: Bank Indonesia menilai dukungan dana atau belanja untuk investasi di bidang teknologi informasi (TI) industri perbankan syariah nasional masih rendah.Direktur Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia Mulya Siregar mengungkapkan perbankan
M. Munir Haikal
M. Munir Haikal - Bisnis.com 21 September 2011  |  19:01 WIB

JAKARTA: Bank Indonesia menilai dukungan dana atau belanja untuk investasi di bidang teknologi informasi (TI) industri perbankan syariah nasional masih rendah.Direktur Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia Mulya Siregar mengungkapkan perbankan syariah harus lebih mempersiapkan teknologi informasi terutama di bidang retail banking dan micro banking."Indonesia itu lebih memahami retail banking maupun micro banking dibandingkan Malaysia ataupun Singapura. Oleh sebab itu harus dipahami bahwasanya kita harus lebih bersiap atau fokus terhadap retail banking atau micro banking," ujarnya dalam seminar masyarakat ekonomi syariah (MES), hari ini.Menurutnya selama ini dukungan dana dan pengembangan teknologi informasi harus berkembang dari dukungan simpanan dan pembiayaan standar menjadi dukungan bagi berbagai kebutuhan nasabah seperti modal kerja, investasi, treasury, trade finance, kepemilikan rumah dan kepemilikan mobil.Mulya menjelaskan, perbankan syariah nasional selama 5 tahun belakangan tumbuh lebih dari 36%, lebih tinggi dari pertumbuhan perbankan konvensional sebesar 15% atau perbankan syariah di Malaysia sebesar 19%.Sementara, pertumbuhan jaringan perbankan syariah Indonesia telah mencapai 1940 jaringan dari 550 jaringan pada 2000, dengan pertumbuhan rekening 1900% dari 0,4 juta pada 2000 menjadi 8 juta per Juni 2011.Dia menyatakan Bank Syariah yang relatif peduli pada pengembangan teknologi informasi biasanya adalah bank syariah yang telah berdiri sendiri atau dikenal dengan bank umum syariah.Sedangkan untuk Unit Usaha Syariah (UUS), lanjut Mulya, masih sangat tergantung pada induk bank konvensional. Begitu juga dengan Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) cenderung belum berkembang kecuali bagi beberapa BPRS yang telah mengelola sistem sendiri."Beberapa BUS juga masih harus menyelesaikan persoalan internal, misalnya penyelesaian konversi atau spin off, sehingga belum dapat mengembangkan sistem IT yang komprehensif," ungkapnya.Achmad K. Permana, Executive Vice Presiden, Head Syariah Banking PT Bank Permata Tbk mengakui investasi perusahaan di bidang teknologi informasi memang cenderung minim karena masih menginduk pada Bank konvensional."Investasi dan pengeluaran kami memang masih sedikit kalau untuk IT, kalau tidak ada rencana tambahan produk, maka dana yang dikeluarkan hanya untuk perawatan," katanya. (Bsi)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Puput Jumantirawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top