KENAIKAN SUKU BUNGA tak miliki pemicu signifikan

 
M. Munir Haikal | 08 April 2012 14:49 WIB

 

JAKARTA: Ekonom menilai kenaikan suku bunga kredit konsumsi yang mulai terjadi sejak minggu lalu belum akan menjadi tren, karena tidak ada pemicu yang cukup signifikan.
 
Kepala Ekonom Standard Chartered Fauzi Ichsan menilai Bank Indonesia  kelihatannya memang mengarahkan pertumbuhan kredit produktif dan mengerem kredit konsumtif, tetapi kenaikan suku bunga dasar kredit (SBDK) tidak berhubungan langsung dengan hal tersebut.
 
"Prime lending rate naik biasanya lebih karena funding cost [biaya dana] naik. Yang perlu ditanyakan adalah kenapa funding cost bisa naik. Kalau persoalannya ternyata bukan pada funding cost, berarti ada kenaikan di risiko premium," ujarnya kepada Bisnis  hari in.
 
Menurutnya, hingga saat ini suku bunga acuan (BI Rate) dan suku bunga fasilitas simpanan Bank Indonesia (Fasbi) juga tidak mengalami kenaikan. 
 
Oleh sebab itu kebijakan bank sentral dinilai masih netral sehingga dari sisi kebijakan industri tidak memiliki alasan untuk beramai-ramai meningkatkan SBDK. Kecuali, tambah Fauzi, ada persoalan dengan masalah pendanaan.
 
Dia menilai jika bank-bank besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dan PT Bank Mandiri benar-benar meningkatkan SBDK konsumer akibat persoalan biaya dana, maka sudah pasti bank-bank dengan kapitalisasi lebih kecil akan mengalami hal yang sama. 
 
Bahkan, bank-bank yang lebih kecil dinilai akan berada dalam situasi yang lebih menyulitkan dari kedua bank tersebut.
 
"Itu pasti [akan terjadi kesulitan pada bank yang lebih kecil apabila ada persoalan dengan biaya dana]. Memang biasanya persoalan ada di funding cost, tapi saya tidak yakin masalahnya itu. Harus ada break down dari BCA atau Mandiri, dari masing-masing bank terlebih dahulu persoalannya apa," tegasnya.
 
Meski demikian, dia optimistis kenaikan ini belum akan menjadi tren mengingat kondisi pasar dan kebijakan yang masih akomodatif. (sut)

Tag :
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top