CITIBANK incar lima proyek investment banking US$3,3 miliar

 
Sutan Eries Adlin | 11 April 2012 17:22 WIB

 

JAKARTA: Citibank N.A Indonesia mengincar lima proyek investment banking senilai US$3,3 miliar tahun ini.
 
Kurnady Lie, Managing Director Head of Global Banking Citibank Indonesia, mengatakan lima proyek tersebut sudah masuk dalam rencana yang terdiri atas dua proyek penawaran umum terbatas atau IPO (initial public offering), dua merger dan akuisisi, dan satu emisi obligasi global berdenominasi Dolar AS.
 
Meski tidak mau menyebutkan nama klien yang akan menggelar IPO, namun menurutnya, kedua calon emiten tersebut merupakan perusahaan yang bergerak di bidang sumber daya alam dan pertambangan.
 
“Satu IPO akan dieksekusi pada semester 1 ini dan satu IPO lagi pada semester II. Nilai kedua IPO tersebut sekitar US$700 juta—US$800 juta,” ujarnya kepada Bisnis di sela-sela acara Seminar Proyeksi Ekonomi Politik 2012 yang digelar Citibank,  hari ini Rabu 11 April 2012.
 
Adapun untuk nilai dua proyek merger dan akuisisi, menurut dia, mencapai US$1 miliar. Namun, kembali dia tidak mau menyebutkan nama perusahaan yang akan menggelar merger dan akuisisi tersebut.
 
Citibank juga telah ditunjuk oleh PT Pertamina sebagai penjamin emisi obligasi bernominasi Dolar AS senilai US$1,5 miliar, bersama HSBC, Barclay Capital, dan Citi Group.
 
Kurnady mengatakan persaingan dalam bisnis investment banking semakin ketat karena beberapa perusahaan lain mulai membanting harga penawaran.
 
“Kami kalah dalam penawaran kepada sebuah bank yang akan menerbitkan global bond. Perusahaan yang menang bahkan mengambil keuntungan yang sangat tipis, bahkan bisa dikatakan tidak untung.”
 
Meski demikian, lanjutnya, Citibank tidak mau terjebak pada persaingan harga tersebut karena bisnis investment banking mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Pada tahun ini Citibank akan memperkuat investment banking guna melengkapi bisnis kredit bagi korporasi.
 
“Citibank menerapkan sistem corporate banking dan investment banking secara serentak guna melayani kebutuhan nasabah korporasi. Kalau nasabah butuh IPO [intial public offering] maka kami siap melaksanakan. Setelah IPO mereka masih butuh modal kerja, kami juga siap memberikan,” ujarnya.
 
Pada awal tahun ini, Citibank telah selesai melaksanakan proyek pelepasan kembali (refloat) 29% saham PT Petrosea Tbk, yang dimiliki PT Indika Energy Tbk dengan nilai Rp1,04 triliun.
 
Selain itu, Citibank juga baru saja menyelesaikan proyek penjualan 2.500 menara milik PT Indosat Tbk. Dalam proyek ini, Citibank berperan sebagai penasehat (advisor).
 
Pada tahun lalu, Bank yang sempat terkena masalah karena kasus pembobolan dana nasabah dan kematian nasabah kartu kredit Irzen Octa ini, menangani sejumlah penerbitan surat utang dan penawaran umum terbatas dengan nilai lebih dari US$7,5 miliar.
 
Dalam emisi surat utang, Citibank tiga kali menjadi joint bookrunner yaitu obligasi global PT Perusahaan Listrik Negara senilai US$1 miliar, sukuk global pemerintah senilai US$1 miliar dan obligasi PT Pertamina US$1,5 miliar.
 
Citibank juga bertindak sebagai joint financial advisor untuk pendanaan Rp1,5 triliun untuk PT Elang Mahkota Teknologi Tbk dalam rangka mengakuisisi Indosiar. Selain itu Citibank juga menjadi pembeli siaga dalam sejumlah right issue dengan nilai US$585 juta. (sut) 

Tag :
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top