MERRILL LYNCH: Langkah BI sudah tepat

 
M. Munir Haikal
M. Munir Haikal - Bisnis.com 12 April 2012  |  18:48 WIB

 

JAKARTA: Merrill Lynch menilai Bank Indonesia saat ini telah melakukan tindakan yang paling tepat dengan menahan laju suku bunga dasar acuan 5,75%, level ini harus dipertahankan setidaknya hingga ada kepastian mengenai kenaikan harga bahan bakar minyak.
 
Head of Emerging Asia Economics, Global Research, Bank of America Merrill Lynch Chua Hak Bin mengungkapkan Bank Indonesia (BI) sebaiknya memilih kebijakan lain di luar suku bunga dasar acuan (BI Rate) apabila ingin melakukan pengetatan moneter.
 
"Kemungkinan pilihan tindakan pertama yang sebaiknya dilakukan bank sentral saat ini adalah pengetatan moneter melalui kenaikan giro wajib minimum [GWM] dan penyempitan koridor suku bunga, sehingga Fasbi rate menjadi lebih tinggi," ujarnya kepada Bisnis hari ini.
 
Menurutnya inflasi dapat mencapai 5,7% sepanjang tahun ini apabila terjadi kenaikan harga bahan bakar pada bulan Juni, atau hanya mencapai 4,7% apabila tidak ada perubahan harga bahan bakar minyak (BBM).
 
Chua juga mengungkapkan, dalam proyeksi awal dia memperkirakan inflasi akan mencapai puncak sebesar 7% pada Agustus atau September apabila terjadi kenaikan harga BBM di atas 33% pada Juni 2012.
 
Dia mengaku kali ini pihaknya lebih berhati-hati dalam memberi proyeksi pertumbuhan Indonesia. Dia mempresiksi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) pada tahun ini akan melambat menjadi 6%. Hal tersebut disebabkan oleh melemahnya ekspor dan harga komoditas yang cenderung tidak tinggi.
 
Adapun, lanjutnya, BI masih optimistis menjaga target inflasi di level 3,5%-5,5% meski terjadi pengurangan subsidi BBM. Bank sentral juga berharap pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) tetap berada di kisaran 6,3%--6,7% dan menjadi 6,8% pada tahun yang akan datang.
 
"Bank Indonesia kemungkinan akan menunggu dan menjaga sikapnya saat ini, sampai keputusan kebijakan bahan bakar dibuat. Apalagi kepemilikan asing atas obligasi mata uang lokal telah menurun menjadi 29,7% pada 5 April dari puncaknya 35,5% pada Juli tahun lalu," jelasnya.
 
Dia melanjutkan penurunan kepemilikan asing tersebut dipicu oleh kekhawatiran atas inflasi dan prospek nilai tukar rupiah yang melemah. (sut)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top