EKSES LIKUIDITAS: BI akan naikkan GWM lagi?

JAKARTA: Bank Indonesia mengaku sedang menyiapkan rencana untuk menyerap kelebihan likuiditas melalui giro wajib minimum. Hal tersebut dilakukan karena industri mengalami ekses likuiditas akibat aliran derasnya dana masuk.
M. Munir Haikal
M. Munir Haikal - Bisnis.com 16 April 2012  |  11:06 WIB

JAKARTA: Bank Indonesia mengaku sedang menyiapkan rencana untuk menyerap kelebihan likuiditas melalui giro wajib minimum. Hal tersebut dilakukan karena industri mengalami ekses likuiditas akibat aliran derasnya dana masuk.

 

Deputi Gubernur bidang Pengelolaan Moneter Bank Indonesia Hartadi A. Sarwono mengaku bank sentral tengah melakukan penyerapan ekses likuiditas secara bertahap melalui operasi pasar dan tengah mempersiapkan penyerapan likuiditas melalui giro wajib minum (GWM).

 

"Penyerapan selain melalui operasi pasar, seperti GWM, terus dipersiapkan untuk dapat digunakan sewaktu-waktu bila diperlukan," ujarnya kepada Bisnis, Minggu 15 April 2012.

 

Dia mengakui saat ini industri perbankan memang tengah mengalami kelebihan likuiditas, tetapi hal tersebut wajar terjadi, sejalan dengan arus modal masuk yang cukup besar dalam beberapa tahun terakhir.

 

Hartadi melanjutkan, BI telah melakukan penyerapan ekses tersebut secara bertahap melalui operasi pasar, antara lain melalui fasilitas Bank Indonesia (Fasbi).

 

Meski demikian dia menilai penyerapan harus dilakukan secara terukur dan berhati-hati agar tidak mengakibatkan gejolak pasar dalam jangka pendek. 

 

GWM 10%

Chua Hak Bin, Head of Emerging Asia Economics, Global Research, Bank of America Merrill Lynch mengungkapkan saat ini industri perbankan menyimpan ekses likuiditas Rp197 triliun. Oleh sebab itu bank sentral harus mengetatkan kebijakan moneter untuk menyerap kelebihan ekses ini.

 

"BI sebaiknya melakukan pengetatan moneter tanpa mengubah BI Rate. Jika GWM dinaikan menjadi 10% dari 8%, maka BI akan menguras kelebihan likuiditas hingga Rp48 triliun," ungkapnya kepada Bisnis.

 

Menurutnya bank sentral akan lebih efisien jika menyerap kelebihan likuiditas melalui peningkatan GWM dari pada menggunakan instrumen pasar seperti Fasbi yang akan meningkatkan biaya dana bagi BI.

 

Meski demikian, Chua juga tidak menampik kemungkinan bagi BI untuk mempersempit koridor batas bawah suku bunga menjadi 150 basis poin dari koridor saat ini 200 basis poin.

 

Kenaikan tersebut, lanjutnya, akan meningkatkan suku bunga Fasbi (Fasbi rate) menjadi 4,25% dari Fasbi rate saat ini 3,75%. Dia menilai langkah tersebut akan membantu normalisasi koridor suku bunga dan mengurangi tingkat kemiringan suku bunga yang kini terjadi.

 

"Langkah ini juga merupakan salah satu pilihan yang harus diambil jika terjadi lonjakan inflasi, apabila terjadi kenaikan harga bahan bakar minyak pada Juni 2012," tegasnya.

 

Direktur Kepatuhan dan Penunjang PT BNI Syariah Imam Teguh Saptono mengakui saat ini industri memang sedang memiliki cukup banyak ekses likuiditas. Akan tetapi kelebihan tersebut bersifat temporer.

 

"Memang ada ekses, bisa dilihat dari undisbursed loan. Namun ini sifatnya temporer, harus dijaga dengan kebijakan yang jangka pendek. kalau GWM kan lebih bersifat jangka menengah. Nanti begitu dia ditetapkan, jangan-jangan eksesnya sudah tidak ada," terangnya.

 

Oleh karena itu Imam menilai akan lebih bijak apabila BI meningkatkan Fasbi Rate untuk menyerap ekses yang dimaksud. (Bsi)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Puput Jumantirawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top