GIRO WAJIB MINIMUM: siap naik ikuti inflasi

JAKARTA: Giro wajib minimum diperkirakan naik apabila ekspektasi inflasi dan inflasi riil 2012 mencapai sudah mencapai 7%.Senior Ekonom Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan mengungkapkan inflasi yang lebih dari 7% akan memicu perlambatan ekonomi pada
M. Munir Haikal
M. Munir Haikal - Bisnis.com 23 April 2012  |  20:16 WIB

JAKARTA: Giro wajib minimum diperkirakan naik apabila ekspektasi inflasi dan inflasi riil 2012 mencapai sudah mencapai 7%.Senior Ekonom Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan mengungkapkan inflasi yang lebih dari 7% akan memicu perlambatan ekonomi pada tahun yang akan datang."GWM [Giro Wajib Minimum] perlu dinaikkan sebelum kenaikan BI Rate. BI tidak mungkin menaikkan dan menurunkan BI rate dalam waktu singkat karena akan mempengaruhi persepsi investor," ujarnya, 23 April 2012.Menurutnya GWM adalah opsi yang harus diambil sebelum Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menaikan suku bunga acuan (BI Rate). Namun, sebelum menaikan GWM, BI sebaiknya terlebih dahulu melakukan pengetatan moneter melalui operasi pasar."GWM adalah pilihan terakhir setelah operasi moneter tidak berhasil. BI terlebih dahulu harus main di deposit facility, kalau tetap naik, berarti operasi moneter kurang berhasil. Kemudian BI harus pilih, naikan GWM atau BI Rate," tegas Fauzi.Dia optimistis BI tidak akan memilih menaikan BI Rate, melainkan meningkatkan GWM. Dia melanjutkan sebaiknya BI meningkatkan GWM menggunakan ekskalasi ekspektasi inflasi. Opsi lainnya, lanjutnya, adalah kenaikan BI Rate apabila GWM ternayat tidak juga berhasil menahan laju kenaikan inflasi.Untuk kenaikan GWM tersebut, tambah Fauzi, BI bisa saja memberikan kompensasi kepada industri. Antara lain melalui sistem targeted increase, yaitu GWM dinaikan secara bertahap sampai memenuhi target tertentu. Cara ini akan menyebabkan bank dengan fungsi intermediasi kurang maksimal akan menyetorkan GWM lebih banyak dibandingkan bank yang telah memiliki rasio pinjaman terhadap dana pihak (loan to deposit ratio/ LDR) ketiga yang tinggi.Adapun berdasarkan catatan BI, sampai awal Maret 2012 suku bunga operasi moneter untuk deposit facility overnight terjaga di level 3,75% sementara yang bertenor 9 bulan sudah meningkatkan mendekati 4,1%.Kepala Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan untuk menaikkan GWM pihaknya akan menggunakan tiga indikator. Yakni, ketahanan inflasi, jumlah ekses likuiditas, dan pemilihan instrumen yang tepat untuk menyerap likuiditas sebab."Bila seluruh penyerapan menggunakan operasi moneter akan mendorong kenaikan suku bunga pasar uang. Ada kisarannya tetapi masih didiskusikan," ujarnya.Perry menambahkan kenaikan GWM juga karena ekses likuiditas perlu disalurkan ke sektor riil untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Artinya, bank yang memiliki ekses likuiditas berlebih akan mendapatkan diinsentif karena harus menyetor GWM yang lebih besar."Semakin besar ekses likuiditas semakin besar GWM. Jadi tidak dipukul rata," tambahnya.Per Maret 2012 ekses likuiditas perbankan mencapai Rp742,02 triliun atau turun 0,92% dibandingkan Januari lalu. Terdiri atas sertifikat Bank Indonesia (SBI) Rp94,5 triliun, deposit facility Rp197,82 triliun, reverse repurchase agreement (repo) Rp73,24 triliun, term deposit Rp83,3 triliun dan sertifikat berharga negera (SBN) Rp293,16 triliun. (Faa) 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Dara Aziliya

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top