Ini dia ngelesnya Singapura soal sulitnya bank RI berekspansi ke sana

JAKARTA: Otoritas Moneter Singapura menilai pemangku kebijakan telah mengakomodasi kebutuhan industri dari luar negara tersebut apabila ingin ekspansi bisnis di wilayahnya.
M. Munir Haikal
M. Munir Haikal - Bisnis.com 24 April 2012  |  07:59 WIB

JAKARTA: Otoritas Moneter Singapura menilai pemangku kebijakan telah mengakomodasi kebutuhan industri dari luar negara tersebut apabila ingin ekspansi bisnis di wilayahnya.

 

Direktur Komunikasi Otoritas Moneter Singapura (Monetary Authority of Singapore/ MAS) Angelina Fernandez mengungkapkan setiap bank dapat beraktifitas dengan maksimal di Singapura selama memenuhi aturan yang ada.

 

"Seluruh bank asing bebas memperluas kegiatan mereka di Singapura, dengan catatan mereka tetap harus tunduk pada pedoman khsusu berdasarkan lisensi operasional yang mereka peroleh," ujarnya kepada Bisnis, 23 April 2012.

 

Hal tersebut diungkapkan Angelina saat menjawab pertanyaan Bisnis mengenai menguatnya isu permintaan asas resiprokal antara kedua negara berkaitan dengan transaksi pembelian saham PT Bank Danamon Tbk oleh DBS Group dari Fullerton Financial Holdings.

 

Adapun MAS diantaranya sangat menekankan kebjiakan manajemen risiko baik di lini keuangan maupun non-keuangan, konsentrasi paparan risiko dan keberadaan tenaga ahli yang dapat mengelola bisnis sesuai dengan aturan 23G.

 

Chua Hak Bin, kepala ekonomi Emerging Asia Economics Global Research, mengungkapkan MAS pasti mengizinkan bank asing manapun, termasuk Indonesia, yang ingin membuka cabang di Singapura.

 

Menurutnya, kemampuan pembukaan cabang dan fasilitas yang dapat diberikan kepada bank-bank akan sangat bergantung pada kemampuan bank memenuhi ketentuan lisensi dari regulator di Singapura.

 

"Bank-bank asing, termasuk bank-bank asal Indonesia, sudah diizinkan untuk membuka cabang baru sesuai dengan lisensi yang mereka peroleh, yaitu pembukaan cabang penuh [full bank] atau memenuhi syarat lisensi bank yang penuh [qualified full bank licenses]," terangnya kepada Bisnis 23 April 2012.

 

Chua melanjutkan, masing-masing negara, baik Indonesia maupun Singapura memberikan ruang bagi industri perbankan dari kedua negara untuk berekspansi maksimal. Namun demikian industri tidak boleh melupakan persyaratan yang diminta oleh masing-masing pihak.

 

Syarat yang dimaksud antara lain pemenuhan kebutuhan modal dalam negeri yang akan sangat spesifik tergantung pada kondisi masing-masing negara, serta persyaratan perizinan.

 

"Bank-bank asing yang memenuhi persyaratan untuk membuka cabang secara penuh dapat membuka hingga 24 cabang di Singapura," jelas Chua.

 

Isu resiprokal kembali menguat setelah DBS Group Holdings mengumumkan rencana akuisisi secara tidak langsung terhadap 100% saham milik Fullerton Financial Holdings Pte Ltd di PT Bank Danamon Indonesia Tbk sebanyak 67,42%, yang dikendalikan Grup Temasek, Singapura. Nilai akuisisi itu mencapai Rp45,2 triliun (US$6,2 miliar).

 

Sebelumnya Deputi Gubernur bidang Pengawasan Bank BI Halim Alamsyah mengungkapkan bank sentral memasukkan poin penerapan asas kesetaraan bisnis antara perbankan Indonesia dan Singapura dalam syarat disetujuinya akuisisi Bank Danamon oleh DBS Group Holdings.

 

Hingga saat ini rencana akuisisi saham Bank Danamon oleh DBS Group belum mendapat restu dari Bank Indonesia. Meski ekonom menyatakan aksi korporasi tersebut sah dan tidak melanggar secara hukum, tetapi isu resiprokal dan pencantuman akuisis dalam rencana bisnis kedua bank mencuat dalam perjalanan realisasi tersebut. (Bsi)

 

>> BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:

+ YAMAHA Rilis Motor Baru MATIC MASKULIN

+ Ahh, Repotnya ngurus SUBSIDI BBM

+ BCA Closes Units in MALAYSIA

+ BANK MANDIRI to Pay IDR2,5 Trillion DIVIDENTS!

+ RAMADAN POHAN ditunjuk jadi MANAJER PSSI

+ REKOMENDASI SAHAM Hari Ini

+ Indeks WALLSTREET Jatuh lagi

+ Suzuki ERTIGA bikin AVANZA dan GRAND LIVINA GALAU!

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Puput Jumantirawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top