LABA BANK: Mandiri jual obligasi rekap secara paket

JAKARTA: PT Bank Mandiri Tbk menjual obligasi rekap secara paket guna menarik minat investor untuk membeli. Bank pelat merah itu tengah menyeleksi 4 perusahaan investasi untuk menjadi penasehat keuangan.Satu sisi, bank BUMN tersebut optimistis Bank Indonesia
Saeno
Saeno - Bisnis.com 25 April 2012  |  19:15 WIB

JAKARTA: PT Bank Mandiri Tbk menjual obligasi rekap secara paket guna menarik minat investor untuk membeli. Bank pelat merah itu tengah menyeleksi 4 perusahaan investasi untuk menjadi penasehat keuangan.Satu sisi, bank BUMN tersebut optimistis Bank Indonesia akan membeli surat utang itu yang akan digunakan sebagai instrumen moneter.Dirut Bank Mandiri Zulkifli Zaini mengatakan obligasi rekap cukup menekan pendapatan perseroan karena imbal hasil yang diberikan merosot sejalan dengan penurunan bunga acuan yang dipakai surat utang itu.“Rencana penjualan obligasi rekap tak hanya untuk likuditas tapi juga mengurangi negative spread, karena saat ini pendapatan menurun dari obligasi rekap,” ujarnya dalam Paparan Publik Laporan Keuangan Kuartal I/2012 di Jakarta, hari ini.Direktur Keuangan dan Perencanaan Bank Mandiri Pahala N. Mansury mengatakan apabila obligasi rekap tak dijual, pengaruhnya terhadap sisi profitabilitas. Pasalnya sejauh ini telah berpengaruh terhadap pendapatan bunga bersih (net interest margin/NIM).“NIM kami menurun, ini karena pendapatan obligasi rekap mengalami penurunan karena acuan bunga SPN menurun signifikan. Dari obligasi rekap Rp78 triliun, apabila yield turun 1% implikasi sekitar Rp700 miliar-Rp800 miliar. Kalau 1,5% bisa mencapai Rp1 triliun,” paparnya.Untuk itu, sambungnya, manajemen menyiapkan sejumlahn strategi untuk melakukan pelepasan obligasi rekap, mulai buyback pemerintah, penjualan kepada Bank Indonesia dan pelepasan kepada investor.Terhadap rencana penjualan kepada investor, ungkapnya, manajemen menyiapkan dua opsi, yakni menawarkan secara paket dengan aset kredit dan mencari pinjaman dalam bentuk valuta asing untuk kebutuhan likuiditas.“Penjualan secara bundling bisa dilakukan dengan menambahkan aset kredit konsumer. Ini sedang kami pelajari. Bisa juga bundling dengan pinjaman valas,” paparnya.Guna memuluskan rencana itu, lanjutnya, perseroan tengah melakukan seleksi terhadap epmpat perusahaan investasi untuk menjadi penasehat keuangan. Empat perusahaan investasi tersebut merupakan yang lolos dari sembilan pendaftar.Adapun terkait dengan rencana penjualan kepada bank sentral, menurut Zulkifli, mendapat respon positif dari otoritas tersebut. “Beberapa kali bicara dan diskusikan. Kami bersyukur sambutan BI cukup positif terkait kemungkinan BI membeli recap bond variable rate itu.”Sebelumnya Bank Mandiri diketahui akan mencari pinjaman senilai US$200 juta hingga US$400 juta untuk mendukung program  pengurangan obligasi rekap jenis variable rate yang dimiliki oleh perseroan.Bank Mandiri sedang menjajaki  tender lead arranger (pemimpin pengatur pinjaman) untuk rencana aksi korporasi tersebut.Sumber Bisnis di bank sentral mengungkapkan perseroan telah menyampaikan rencana pencarian pinjaman ini ke Bank Indonesia. Aksi korporasi ini seiring dengan rencana Bank Indonesia untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan obligasi rekap yang dimiliki oleh entitas perbankan."Rencananya, kreditur yang berminat untuk memberi pinjaman ke Bank Mandiri harus membeli obligasi rekap yang dimiliki oleh perseroan pada harga par," ujarnya.Kontribusi bunga obligasi rekap terhadap laba semakin menurun seiring dengan kebijakan acuan bunga surat utang tersebut yang berubah dari Sertifikat Bank Indonesia (SBI) ke Surat Perbendaharaan Negara (SPN). Saat ini kupon SPN berada pada level sebesar  2,18%.Obligasi rekap adalah surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah untuk mendukung modal perbankan pada saat krisis moneter 1997-1998.Jumlah obligasi rekap yang diterbitkan mencapai Rp430 triliun dengan tenor paling panjang sampai 2020. Surat utang ini terbagi dua yaitu obligasi rekap fixed rate (bunga tetap) dengan kupon sekitar 13,175% hingga 14,275%.Entitas perbankan tentu mempertahankan surat utang jenis ini karena kuponnya lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat bunga acuan BI Rate yang berada pada level 5,75% maupun tingkat imbal hasil surat utang negara yang berada pada level 2,2% hingga 6,7%.Namun, entitas perbankan tentu berupaya supaya neracanya bersih dari obligasi rekap jenis variable rate.Semula, kupon surat utang jenis ini mengacu ke bunga Sertifikat Bank Indonesia bertenor tiga bulan. Namun, SBI bertenor tiga bulan sudah tidak diperdagangkan lagi dan mengacu ke SPN. (faa)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Dara Aziliya

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top