INDUSTRI PERBANKAN: Penyaluran kredit di Balikpapan 2012 lebih lambat dari 2011

BALIKPAPAN--Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan memproyeksikan pertumbuhan penyaluran kredit perbankan sepanjang 2012 berkisar antara 18%-20% lebih lambat dibandingkan pertumbuhan 2011 yang mencapai 27,55%.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 29 Desember 2012  |  03:51 WIB

BALIKPAPAN--Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan memproyeksikan pertumbuhan penyaluran kredit perbankan sepanjang 2012 berkisar antara 18%-20% lebih lambat dibandingkan pertumbuhan 2011 yang mencapai 27,55%.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Tutuk S.H. Cahyono mengatakan hingga November 2012 penyaluran kredit perbankan di wilayah kerjanya telah mencapai Rp19,55 triliun. Secara tahunan, pertumbuhan kredit perbankan hanya sebesar 19%, dengan perlambatan pada sektor kosumsi.

“Perlambatan pertumbuhan terutama terjadi pada jenis kredit konsumsi seiring diterapkannya kebijakan loan to value untuk KPR [kredit kepemilikan rumah] maupun KKB [kredit kendaraan bermotor],” ujarnya dalam Siaran Pers Akhir Tahun, Jumat (28/12/2012).

Perlambatan kredit ini juga disebabkan oleh adanya faktor eksternal yang turut mempengaruhi perkembangan bisnis di Balikpapan. Melemahnya harga batubara di pasaran internasional yang menyebabkan kelesuan industri pertambangan menyebabkan industri turunan pertambangan yang banyak beroperasi di Balikpapan turut melesu. Akibatnya, penyaluran kredit pun ikut melambat. 

Kontribusi kredit konsumsi sebesar Rp7,67 triliun, kredit investasi sebesar Rp4,86 triliun dan kredit modal kerja sebesar Rp7,03 triliun. Dibandingkan dengan kondisi pada akhir 2011, kredit konsumsi mencapai Rp7,05 triliun, kredit investasi sebesar Rp4,12% dan kredit modal kerja sebesar Rp5,89 triliun.

Tutuk menambahkan kredit perbankan pemerintah relatif stabil dengan pangsa pasar mencapai 44,93%. Adapun pertumbuhan kredit perbankan swasta cenderung menurun kendati masih menguasai pangsa pasar sebesar 55,07%. 

Perkembangan rasio simpanan berbanding dengan pinjaman (loan to deposit ratio/LDR) perbankan di wilayah kerja KPw BI Balikpapan mencapai 98,5% yang menunjukkan fungsi intermediasi perbankan berjalan cukup baik. Apabila dirinci, LDR perbankan swasta cukup tinggi hingga mencapai 140,94% dan perbankan pemerintah sebesar 71,97%.

Kendati mengalami perlambatan pertumbuhan, kualitas kredit yang diberikan oleh perbankan masih dalam kondisi yang realitf terjaga yakni sebesar 2,54%. Tutuk menyebutkan sektor penyumbang NPL terbesar yakni jasa sosial (6,57%), konstruksi (4,94%), transportasi (3,70%) dan pertambangan (3,48%). 

Efisiensi operasional perbankan yang tercermin dari nilai Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) juga cukup baik sebesar 56,48% lebih rendah dibandingkan nasional yang mencapai 74,02%. Namun, rasio selisih bunga bersih (net interest margin/NIM) masih perlu ditekan karena menunjukkan suku bunga kredit yang masih tinggi.

“Perbankan perlu menurunkan rasio NIM-nya karena sekarang sebesar 9,51%. Angka ini lebih tinggi dari nasional yang hanya 5,48% padahal bank di Balikpapan lebih efisien,” tambahnya. 

Adapun untuk penyaluran kredit UMKM, juga mengalami perlambatan pertumbuhan dengan pangsa terbesar ke sektor perdagangan, hotel dan restoran. Hingga November 2012, total penyaluran kredit telah mencapai Rp6,39 triliun atau 32,7% dari total kredit yang disalurkan. (msb)

Perkembangan Kredit Perbankan KPw BI Balikpapan (Rp triliun)

                                             Kw I/2012               Kw II/2012            Kw III/2012          November 2012

Kredit Konsumsi                         7,04                       7,36                       7,52                       7,67

Kredit Investasi                            4,15                       4,61                       4,76                       4,86

Kredit Modal Kerja                     5,93                       6,40                       6,72                       7,03

Sumber: Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, diolah

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Rachmad Subiyanto

Editor : Novita Sari Simamora

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top