Surplus Neraca Perdagangan Redam Efek Shutdown AS

Bisnis.com, JAKARTA - Perbaikan perekonomian Indonesia yang ditandai dengan surplus neraca perdagangan dan menguatnya rupiah merupakan sinyal positif di tengah kondisi shutdown yang dialami pemerintahan Amerika Serikat.
Laila Rochmatin | 02 Oktober 2013 20:22 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Perbaikan perekonomian Indonesia yang ditandai dengan surplus neraca perdagangan dan menguatnya rupiah merupakan sinyal positif di tengah kondisi shutdown yang dialami pemerintahan Amerika Serikat.

Menteri Keuangan Chatib Basri pada Rabu (2/10/2013) di pembukaan Rapat Kerja Terbatas Penilaian dan Musyawarah Nasional Penilai Pemerintah mengatakan kondisi shutdown Amerika Serikat tidak terbukti menggoyangkan perekonomian Indonesia.

“Berita mengenai surplus neraca perdagangan sebesar US$132,4 juta dari berdasarkan data Badan Pusat Statistik yang dikeluarkan pada Selasa (1/10/2013) membuat pasar bergairah sehingga nilai rupiah menguat, indeks harga saham gabungan (IHSG) menguat, yield kita menguat, dan stok market juga membaik,” ujar Chatib Basri, Rabu (2/10/2013).

Dia menambahkan surplusnya neraca perdagangan Indonesia merupakan yang pertama kali dalam beberapa bulan terakhir.

“Kondisi ini memang sudah diprediksi sejak pemerintah mengeluarkan kebijakan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Tingkat inflasi yang tinggi akan mulai mereda dalam jangka waktu 3 bulan ke depan,” papar Chatib.

Menurutnya, itu semua tergantung pada upaya pemerintah dalam mengendalikan sisi internal sehingga dampak dari sisi eksternal tidak terlalu memukul perekonomian Indonesia.

Dia berharap deflasi juga akan bertahan hingga Oktober ini, sehingga pemerintah bisa menjaga aliran inflasi di bawah angka 9%.

“Jika deflasi masih berlanjut, pemerintah berencana untuk merubah sistem kuota perdagangan dalam impor holtikultura menjadi mekanisme harga,” terang Chatib.

Dengan begitu, arus impor bahan makanan akan menjadi lancar dan pemerintah dapat memberikan perlindungan dalam bentuk tariff sehingga harga dapat dikendalikan.

“Upaya tersebut tentu tidak mudah, apalagi ada dampak dari fluktuasi impor,” tambahnya.

Di lain pihak, Menteri Perekonomian Hatta Radjasa pada Selasa (1/10) di Kantor Menko Perekonomian mengungkapkan angka-angka itu hanya sebuah patokan dan pemerintah tidak boleh berpuas hati.

Kondisi deflasi tidak berarti membuat ekonomi Indonesia membaik, menurutnya Indonesia masih akan menghadapi depresiasi rupiah dan ancaman inflasi.

“Selama fundamentalnya bagus, maka ancaman tersebut saya harapkan tidak akan memukul masyarakat secara signifikan. Satu-satunya potensi inflasi ada pada Desember 2013, karena biasanya akhir tahun banyak sekali pembiayaan yang keluar,” ungkap Hatta.

Tag : Neraca Perdagangan, as, menkeu, chatib basri, surplus
Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top