BPS Rilis Data Ekonomi, Ini Prediski Inflasi Nov.

Depresiasi rupiah diyakini akan mengerek laju inflasi November dan Desember lebih tinggi dari kenaikan inflasi Oktober
Ringkang Gumiwang | 02 Desember 2013 07:44 WIB

Bisnis.com, JAKARTA— Depresiasi rupiah diyakini akan mengerek laju inflasi November dan Desember lebih tinggi dari kenaikan inflasi Oktober.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sepanjang pekan lalu bergerak pada level Rp11.510 - Rp12.018 per dolar AS, terendah sejak 2009. Sementara itu, kurs tengah rupiah yang ditetapkan BI berada pada Rp11.722 - Rp11.977 per dolar AS. Di pasar umum, US$1 dihargai lebih dari Rp12.000.

Ekonom PT Samuel Sekuritas Indonesia Lana Sulistianingsih memperkirakan laju inflasi November 2013 akan berada pada kisaran 0,14%-0,23% secara bulanan, atau lebih tinggi dari posisi Oktober 0,09%. Namun, secara umum tren inflasi sudah menunjukkan perlambatan.

“Dalam 2 bulan terakhir memang akan terjadi inflasi, namun nilai persentasenya akan sangat kecil. Hal ini didorong potensi deflasi bahan makanan dan sandang akibat harga emas yang menunjukkan tren menurun akhir-akhir ini,” katanya saat dihubungi, Minggu (1/12/2013).

Kendati begitu, lanjutnya, melemahnya nilai tukar rupiah membuat harga barang seperti makanan jadi dan obat-obatan mengalami kenaikan yang signifikan. Hal tersebut merupakan imbas dari pengalihan biaya produksi ke harga barang.

Sementara itu, Kepala Ekonomi PT Bank Mandiri Tbk. Destry Damayanti memperkirakan inflasi November akan naik sekitar 0,14% secara bulanan. Angka perkiraan tersebut didasari terkendalinya bahan pangan terutama beras, serta harga emas yang cenderung turun.

“Secara historis inflasi November ini akan sangat kecil karena adanya panen raya. Namun memang agak lebih besar dibandingkan dengan laju inflasi bulan sebelumnya karena harga bahan pangan saat itu cukup dalam di luar ekspektasi,” ka tanya.

Agak berbeda dengan Lana, Destry berpendapat perlemahan rupiah akhir-akhir ini tidak akan terlalu berdampak terhadap laju inflasi November. Menurutnya, dampak perlemahan rupiah terhadap dolar AS akan terlihat lebih jelas dalam 1 bulan ke depan.

Oleh karena itu, dia memperkirakan, inflasi Desember mendatang akan tercatat cukup besar, apalagi sepanjang Desember akan ada beberapa event besar. Adapun, dari perlemahan rupiah sebanyak 10% akan menaikkan inflasi seba nyak 0,8%.

Sumber : Bisnis Indonesia (2/12/2013)

Tag : inflasi 2013, inflasi dki, tekanan inflasi
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top