Perekonomian Indonesia Dinilai Rapuh dan Tidak Berkualitas

Institute For Development Of Economics And Finance (Indef) menyatakan perekonomian Indonesia memiliki pertumbuhan yang tinggi 10 tahun terakhir, tetapi rapuh dan tidak berkualitas.
Muhammad Abdi Amna | 02 April 2014 18:43 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Institute For Development Of Economics And Finance (Indef) menyatakan perekonomian Indonesia memiliki pertumbuhan yang tinggi 10 tahun terakhir, tetapi rapuh dan tidak berkualitas.

Rata-rata pertumbuhan ekonomi satu dekade terakhir sebesar 5,8% per tahun rupanya menyingkirkan sektor tradable dan memperlebar ketimpangan. Lambatnya penurunan tingkat pengangguran terbuka dan tingkat kemiskinan di barengi dengan kenaikan rasio Gini menunjukkan kerapuhan.

“Pada 10 tahun terakhir, pemerintah terlihat sangat PDB [produk domestik bruto]-oriented. Seluruh anggaran yang diberikan kepada kementerian/lembaga L selalu ditanya berapa persen kontribusinya kepada pertumbuhan PDB,” ujar Didin S. Damanhuri, Peneliti Indef, di Jakarta pada Rabu (2/4/2014).

Menurutnya, secara ekonomi pertumbuhan PDB adalah indikator yang sangat penting, tetapi jangan sampai tujuan utama yakni peningkatan penduduk kelas menengah dan merata menjadi terabaikan. PDB-oriented, menurutnya, menimbulkan disparitas yang sangat mencolok dalam pertumbuhan.

Kesenjangan terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang terus positif, namun, dibarengi dengan peningkatan rasio Gini, penurunan pengangguran terbuka dan tingkat kemiskinan yang sangat lambat serta nilai tukar petani (NTP) yang tidak kunjung meningkat.

Indef mencatat rata-rata tingkat pengangguran terbuka Indonesia dalam 10 tahun terakhir berada pada 8,24% dan rata-rata tingkat kemiskinan 14,62%. Sementara itu, rasio gini pada 2014 ini diperkirakan berada pada 0,41 dan rata-rata nilai tukar petani 10 tahun terakhir adalah 104,64.

Lambatnya peningkatan NTP menurut Didin akibat disparitas yang cukup tajam antara harga di level petani dengan harga di tingkat konsumen pada komoditas pertanian. Dia mengatakan petani menerima harga di bawah keekonomiannya, padahal NTP merupakan indikator ketahanan pangan.

Pekerjaan sektor formal, menurut hasil penelitian Indef, juga menunjukkan peningkatan dari 30,33% pada 2004 menjadi 40,42% pada 2014, tetapi porsi sektor informal masih terlalu besar dengan capaian lebih dari 58%.

Di lain sisi, pertumbuhan tax ratio Indonesia menurut Indef masih sangat lambat. Dengan rata-rata pendapatan per kapita saat ini sekitar Rp4 juta, tax ratio Indonesia hanya 12,4%. Dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan peningkatan kelas menengah, potensi tax ratio seharusnya 15%-17%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
indef

Editor :

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top