Kisaran Asumsi Nilai Tukar Rupiah dalam RAPBN 2015 Lebar

Komisi XI DPR RI menyetujui kisaran asumsi nilai tukar rupiah yang akan dibahas di RAPBN 2015 berada pada level Rp11.500-Rp12.100 lebih lebar dari ajuan awal pemerintah semula Rp11.500-Rp12.000 maupun Bank Indonesia Rp11.900-Rp12.100.
Kurniawan A. Wicaksono | 02 Juli 2014 22:43 WIB
Kisaran asumsi nilai tukar rupiah dalam RAPBN 2015 lebar. - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA – Komisi XI DPR RI menyetujui kisaran asumsi nilai tukar rupiah yang akan dibahas di RAPBN 2015 berada pada level Rp11.500-Rp12.100 lebih lebar dari ajuan awal pemerintah semula Rp11.500-Rp12.000 maupun Bank Indonesia Rp11.900-Rp12.100.

Melebarnya kisaran asumsi nilai tukar rupiah tersebut diputuskan setelah Wakil Ketua Komisi XI Andi Timo mempertanyakan kebijakan penjagaan kestabilan rupiah.

“Beberapa pekan terakhir ini kan kita melihat volatilitas cukup tinggi, nilai tukar pun tembus Rp12.000. BI mengusulkan [dalam asumsi RAPBN 2015] batas atas di level Rp12.100, kok pemerintah bisa di Rp12.000?” ujarnya.

Gubernur BI Agus D. Martowardjojo menyatakan asumsi nilai tukar rupiah yang diajukan BI didasarkan pada asumsi 2015 ada prospek neraca perdagangan yang baik karena ada perbaikan kinerja ekonomi global. Dengan demikian, akan memicu ekspor dan membuat impor terkendali. Namun, pemerintah masih harus mewaspadai defisit transaksi berjalan yang diprediksikan masih akan defisit.

“Selain itu, kita pertimbangkan pula kenaikan suku bungan The Fed,” tuturnya saat menghadiri raker dengan Komisi XI di DPR, Jakarta, Rabu (2/7/2014).

Senada dengan Agus, Menteri Keuangan M. Chatib Basri mengatakan tren rata-rata nilai tukar kumulatif Januari-Mei 2014 menunjukkan tren penurunan. Selain itu, masih ada beberapa risiko ke depan, a.l. kebijakan tapering off dan tekanan arus likuiditas global, pemulihan ekonomi di China dan negara emerging markets yang belum sesuai harapan, dan risiko tekanan yang bersumber dari defisit neraca perdagangan.

Pada 2015, lanjut dia, masih ada risiko dari potensi dampak kebijakan suku bunga AS, risiko gejolak likuiditas, dan potensi berlanjutnya perlemahan ekonomi China membuat kisaran nilai tukar rupiah yang diajukan pemerintah berada pada Rp11.500-Rp12.100. Sekadar informasi, sejak 2010 hingga 2013, pertumbuhan ekonomi di China mengalami perlambatan dari 10,4% menjadi 7,7%.

“Untuk amannya, kita ambil dulu batas atas BI di Rp12.100,” ujarnya.

Chatib juga mengatakan proyeksi ekonomi global 2015 di level 3,9% meningkat dari proyeksi 2014 sebesar 3,6% berimplikasi pada permintaan produk ekspor Indonesia. Dengan adanya permintaan ekspor dan harapan pengetatan fiskal yang berakhir 2014 akan membuat pemerintah baru nantinya bisa melakukan ekspansi.

Dengan dasar itulah, asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2015 berada pada kisaran 5,5%-6%.  Asumsi itu pula yang disetujui Komisi XI DPR, lebih optimis dibandingkan dengan usulan BI yang berada pada kisaran 5,4%-5,8%.

Sementara itu, untuk asumsi inflasi, sejalan dengan proyeksi inflasi global pada 2015 yang berada pada level 3,4% atau meningkat dari proyeksi 2014 di level 3,5%, Komisi XI DPR pun menyetujui asumsi inflasi di level 3%-5%. Sementara suku bunga SPN 3 bulan di kisaran 6,0%-6,5%.

Seluruh asumsi makro tersebut akan dibahas lebih dalam dengan Badan Anggaran DPR.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi

Editor : Setyardi Widodo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top