Ekspor Terjerembab, Kebijakan Pelemahan Rupiah Tak Cukup Efektif

Kebijakan pelemahan rupiah yang ditempuh Indonesia tidak cukup mampu mendongkrak ekspor. Ekspor justru terjerembab 8,11% (year on year) menjadi US$14,83 miliar pada Mei.
Sri Mas Sari | 02 Juli 2014 23:30 WIB
Mirza Adityaswara. -

Bisnis.comJAKARTA – Kebijakan pelemahan rupiah yang ditempuh Indonesia tidak cukup mampu mendongkrak ekspor. Ekspor justru terjerembab 8,11% (year on year) menjadi US$14,83 miliar pada Mei.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan penurunan terjadi baik pada ekspor migas maupun nonmigas, masing-masing 17,1% menjadi US$2,38 miliar dan 5,74% menjadi US$12,45 miliar.

Di antara ekspor nonmigas, terdapat pengapalan mesin dan peralatan listrik yang terkoreksi 7,6% menjadi US$0,8 miliar serta mesin dan pesawat mekanik turun 8,3% menjadi US$0,5 miliar.

Kontraksi ekspor itu bertolak belakang dengan harapan Bank Indonesia yang dalam setahun terakhir menerapkan kebijakan ‘pelemahan rupiah’  untuk mendorong ekspor dan mempersempit peluang impor.

Dengan membiarkan rupiah melemah (undervalue), harga komoditas ekspor diharapkan lebih kompetitif, sedangkan impor kian mahal. Kebijakan ini serupa dengan Jepang dan China yang melemahkan yen dan yuan untuk membuat ekspor kompetitif.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengakui kebijakan kurs yang ditempuh bank sentral tidak serta-merta mampu melesatkan ekspor.

“Apa yang bisa kami lakukan terbatas. Kami hanya bisa dari sisi kurs,” katanya saat berkunjung ke kantor Bisnis, Rabu (2/7/2014).

Itu pun, lanjutnya, dilakukan secara terukur, dalam arti tidak terlalu melemah karena justru akan mengancam utang luar negeri.

Menurutnya, pemerintah harus mengambil peran lebih besar untuk meningkatkan daya saing ekspor, a.l. dengan perbaikan infrastruktur dan deregulasi peraturan yang mengganggu iklim usaha.

Effort kita masih kurang. Makanya, kalau kita bicara deregulasi, export competitiveness, itu memang benar-benar tidak bisa hanya diucapkan, harus benar-benar dikerjakan,” ujar Mirza.

BI, tuturnya, tetap akan mempertahankan sikap membiarkan kurs rupiah bergerak sesuai fundamentalnya ketimbang mati-matian mengintervensinya. Fundamental yang dimaksud adalah kurs yang mencerminkan defisit transaksi berjalan dan mendorong agar defisit tidak melebar.

“Karena kalau kita lawan kekuatan itu, akan sia-sia dan cadangan devisa kita tergerus,” ujarnya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah, ekspor, bank indonesia

Editor : Setyardi Widodo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top