DAFTAR ORANG TERKAYA: Rugi US$362,9juta, Budi Hartono Semakin Anjlok

Orang terkaya di Indonesia, Budi Hartono kekayaannya semakin menurun saja. Menurut data yang dilansir di Bloomberg, Budi kembali harus menelan kerugian sebesar hingga US$362,9juta atau 4,5%. Namun, dilihat dari perubahan YTD, kekayaannya masih naik menuju angka US$1,4miliar atau 22,6%.
Atiqa Hanum | 02 September 2014 02:20 WIB
Dari kiri ke kanan: Gubernur BI Agus D.W Martowardojo, Ketua Umum Apindo Sofjan Wanandi, dan Budi Hartono, pemilik Grup Djarum, berbincang sebelum acara Bankers Diner di Bank Indonesiaakhir tahun lalu - Arif Budisusilo/Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA — Orang terkaya di Indonesia, Budi Hartono kekayaannya semakin menurun. Menurut data yang dilansir di Bloomberg, Budi kembali harus menelan kerugian sebesar hingga US$362,9juta atau 4,5%. Namun, dilihat dari perubahan YTD, kekayaannya masih naik menuju angka US$1,4miliar atau 22,6%.

Hartono adalah pemilik Djarum, pembuat kretek-rokok terbesar ketiga di Indonesia. Dia mewarisi perusahaan dengan saudaranya, Michael Hartono, dari ayah mereka, Oei Wie Gwan. Saudara-saudara juga merupakan pemegang saham terbesar di Bank Central Asia melalui Farindo, perusahaan induk mereka memperoleh kendali pada tahun 2007 dari Hedge Fund Farallon Capital  US. Kepentingan lainnya termasuk menara telekomunikasi, real estate dan kelapa sawit.

Api hampir menghancurkan pabrik rokok perusahaan pada tahun 1963 Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono mengambil bisnis tersebut setelah ayah mereka meninggal pada tahun yang sama. Mereka membangunnya kembali dan dimodernisasi Djarum, mendirikan pusat penelitian dan pengembangan untuk menciptakan campuran kretek baru, termasuk kretek cigarillo pertama di dunia dan berbagai rasa ceri. Dan mulai mengekspor rokok mereka pada tahun 1972. Saat ini, sekitar 60.000 pekerja di pabrik-pabrik mereka di Kudus manual menggulung rokok kretek Djarum, yang dijual terutama untuk berpenghasilan rendah.

Aset Hartono yang paling berharga adalah saham 24% dalam publik Bank Central Asia (BCA), bank terbesar di Indonesia berdasarkan nilai pasar. Dia juga memiliki 17% dari Sarana Menara Nusantara, operator menara telekomunikasi. Miliarder yang memiliki setengah dari Djarum, perusahaannya berbasis di Kudus, Jawa Tengah, memberikan kontribusi sekitar 18% dari rokok yang dijual di Indonesia pada tahun 2013, menurut sebuah laporan Juni 2013 oleh Philip Morris International, perusahaan rokok terbesar publik dunia.

Dia dan saudaranya, Michael, pusat perbelanjaan sendiri juga Grand Indonesia, Hotel Kempinski dan Menara BCA, gedung perkantoran kelas premium, di Jakarta. Valuasi aset properti berdasarkan taksiran sewa bulanan rata-rata Menara BCA US$42 per meter persegi, diperkirakan rata-rata Grand Indonesia sebesar US$70 per meter persegi dan tingkat rata-rata tertimbang Hotel Kempinski murah dari US$394 per kamar per malam.

 
Tag : orang terkaya
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top