Perebutan Dana Berpotensi Tekan Laju Pertumbuhan Ekonomi

Besarnya kebutuhan pembiayaan defisit anggaran negara menimbulkan potensi crowding outperebutan dana antara pemerintah dengan sektor swastadi pasar keuangan, yang bisa berimbas pada pertumbuhan ekonomi.
Ardhanareswari AHP | 02 Oktober 2014 23:34 WIB
Menkeu Chatib Basri. -
Bisnis.com, JAKARTA-- Besarnya kebutuhan pembiayaan defisit anggaran negara menimbulkan potensi crowding out atau perebutan dana antara pemerintah dengan sektor swastadi pasar keuangan, yang bisa berimbas pada pertumbuhan ekonomi.
 
Kepala Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Penduduk Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM FEUI) I Kadek Dian Sutrisna mengatakan perebutan aliran dana ini berpotensi mengendurkan laju pertumbuhan ekonomi.
 
Porsi pemerintah dalam PDB (produk domestik bruto) kan lebih kecil. Swasta lebih mendorong pertumbuhan, katanya saat dihubungi Bisnis, Kamis (2/10). Dalam lima tahun terakhir porsi konsumsi swasta terhadap pertumbuhan ekonomi domestik mencapai lebih dari 50%.
 
Data BPS mencatat pertumbuhan PDB sepanjang kuartal II/2014 melemah secara year-on-year, dari 5,76% di tahun lalu menjadi 5,12% pada periode yang sama tahun ini.
 
Ditemui dalam kesempatan terpisah, Menteri Keuangan M. Chatib Basri mengisyaratkan crowding out ini sudah terjadi, yang paling jelas terlihat adalah di sektor perbankan. Crowding out antara perbankan dan financing bisa diperkecil. Ini adalah langkah yang harus dilakukan agar stabilitas makro bisa terjadi, katanya.
 
Peperangan suku bunga antarbank untuk menggaet dana investor akhirnya diredam oleh penertiban dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang membatasi besaran bunga simpanan maksimal pada level 225 basis poin di atas suku bunga acuan Bank Indonesia (BI), yaitu 7,5%.
 
Kadek menambahkan laju suku bunga yang tinggi memang menjadi salah satu indikator terjadinya perebutan dana tersebut. Pada akhirnya, karena suku bunga yang terlalu tinggi akan menggerus kemampuan pelaku pasar untuk menarik meminjam dana dalam rangka investasi.
Tag : ekonomi
Editor : Setyardi Widodo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top