BNI Syariah Incar Aset Rp22,49 triliun pada 2015

PT Bank BNI Syariah, anak usaha PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, memproyeksi pertumbuhan aset tahun ini sebesar 16%, ditopang ekspansi pembiayaan dan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK).
Rivki Maulana | 02 Februari 2015 19:16 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- PT Bank BNI Syariah, anak usaha PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, memproyeksi pertumbuhan aset tahun ini sebesar 16%, ditopang ekspansi pembiayaan dan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK).

Dinno Indiano, Direktur Utama BNI Syariah, mengatakan pertumbuhan aset akan ditopang oleh ekspansi pembiayaan yang ditargetkan tumbuh 25%. "Kemarin [Desember 2014] kita tutup [aset] Rp19,49 triliun, Januari 2015 asetnya [mencapai] Rp20,5 triliun," ungkapnya dalam Paparan Kinerja BNI Syariah 2014 di Jakarta seperti dikutip Bisnis.com, Senin (2/2/2015).

Dengan proyeksi pertumbuhan 16%, berarti akan ada peningkatan aset sekitar Rp3 triliun menjadi Rp22,49 triliun pada tahun ini. 

Pertumbuhan aset BNI pada 2014 didorong oleh penyaluran pembiayaan yang tumbuh 33,79% menjadi Rp15 triliun. Di samping itu, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai 43% turut menjadi pendorong pertumbuhan aset perseroan.

Sejak spin off atau pemisahan unit bisnis dari induk pada 2010 lalu, rata-rata pertumbuhan aset BNI mencapai 32,12%. Ini ditopang dari ekspansi pembiayaan yang tumbuh rata-rata 43,48% dalam empat tahun terakhir.

Dinno menekankan, tahun ini BNI Syariah akan tetap fokus menyalurkan pembiayaan ke segmen konsumer, terutama pembiayaan perumahan yang menyumbang 90% terhadap total portofolio.

Dia menambahkan, kualitas pembiayaan perumahan tetap terjaga karena sebagian besar disalurkan untuk rumah pertama. Tingkat NPF pembiayaan perumahan perseroan mencapai 1,49%.

Selain konsumer, BNI Syariah juga menyalurkan pembiayaan ke segmen mikro, komersial, dan usaha kecil dan menengah (UKM).

Selain pembiayaan BNI Syariah juga berniat menggenjot DPK dari cabang-cabang konvensional milik induk atau Sharia Channeling Office yang berjumlah 1.487.

Dinno mengatakan, BNI Syariah akan ikut dalam bagian transformasi induk usaha menjadi BNI Financial Center. "Artinya kita akan tumbuh bersama, kerja sama [dengan induk dan sister company] supaya anak usaha jauh lebih efisien," ujarnya.

Tahun lalu, DPK yang dihimpun dari SCO diharapkan bertambah Rp475 miliar sehingga di akhir 2015 total dana yang dihimpun dari SCO menembus Rp1 triliun. Tahun lalu, BNI Syariah juga mendapat limpahan dana haji dari induk sebesar Rp2,1 triliun sehingga menurunkan rasio pembiayaan terhadap simpanan atau finance to deposit ratio (FDR) menjadi 93%.

Imam Teguh Saptono, Direktur Bisnis BNI Syariah, menambahkan perseroan juga berniat menerbitkan sukuk hingga Rp500 miliar bertenor tiga tahun."Tujuannya untuk market profiling, [menambah] likuiditas, dan maturity mismatch," jelasnya.

Penerbitan sukuk ini juga dimaksudkan agar rasio FDR perseroan melonggar karena tanpa aksi korporasi rasio FDR bisa menembus 98%. Imam mengatakan, Bank Indonesia berencana memperluas definisi simpanan sehingga sukuk bisa dimasukkan dalam komponen LDR.
(Rivki Maulana)

Tag : bni syariah
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top