Inflasi Aceh: Konsumsi Perayaan Maulid Jadi Faktor Utama. Ini Penjelasan BPS Aceh

Di saat, rerata daerah mengalami deflasi, Aceh justru mengalami inflasi 0,17%. Perayaan Maulid Nabi menjadi faktor utama inflasi.
Febrany D. A. Putri | 02 Februari 2015 15:15 WIB

Bisnis.com, BANDA ACEH--Penurunan harga bahan bakar minyak bersubsidi oleh pemerintah pada pertengahan bulan lalu tak berdampak signifikan meredam laju inflasi di Aceh.

Di saat, rerata daerah mengalami deflasi, Aceh justru mengalami inflasi 0,17%. Perayaan Maulid Nabi menjadi faktor utama inflasi.

Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh mencatat, sepanjang Januari 2015, dua kota yakni Banda Aceh dan Lhoksumawe mengalami inflasi masing-masing 0,1% dan 0,44%. Sementara itu, Meulaboh deflasi 0,12%.

Kepala BPS Aceh Hermanto menyebutkan, Maulid Nabi pada 3 Januari 2015 memicu peningkatan konsumsi masyarakat Aceh, khususnya bahan pangan.

"Maulid Nabi di Aceh berdampak pada konsumsi makanan masyarakat selama 1 bulan. Aceh memang berbeda. Inflasi terutama terjadi di pedesaan yakni 0,81%," ucap Hermanto, Senin (2/2/2015).

Lebih lanjut, inflasi di pedesaan dipicu kenaikan harga bahan pangan 2,42%, makanan jadi 1,19%, dan perumahan 1,45%. Aceh juga tercatat memiliki inflasi pedesaan tertiggi dari provinsi lainnya di Sumatra.

Secara keseluruhan, di Banda Aceh inflasi pada kelompok makanan mencapai 2,15%, di Lhoksumawe 2,25%, sementara di Meulaboh deflasi 0,1%.

"Terutama makanan jadi, karena justru bahan pangan lokal harga menurun," tambah Hermanto.

Berdasarkan data tersebut, secara tahunan, Aceh mengalami inflasi 6,02% dengan rincian Banda Aceh 5,97%, Lhoksumawe 6,43%, dan Meulaboh 5,25%.

Khusus untuk Banda Aceh, selain makanan, kelompok yang mengalami inflasi yakni perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar lainnya 1,28%, sandang 1,18%, makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,74% serta kesehatan 0,08%.

Beberapa komoditas dengan andil inflasi tertinggi di Banda Aceh yakni tukang bukan mandor 0,22%, tongkol 0,2%, daging ayam ras 0,12%, beras 0,11% dan ayam hidup 0,07%.

Sementara itu komoditas yang mengalami penurunan harga yakni bensin 0,98%, cabai merah 0,2%, udang basah 0,14%, dan tomat 0,08%.

Hermanto mngatakan, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Aceh bersama instansi terkait telah bekerja sama dengan baik untuk menekan laju inflasi dengan melakukan operasi pasar pada akhir tahun lalu.

"Kalau tidak direm bisa jadi inflasinya lebih tinggi dari angka saat ini. Untuk beberapa bahan pangan pokok sudah bisa teratasi, tapi inflasi justru terjadi di kelompok makanan jadi dan impor seperti daging ayam dan telur," pungkas Hermanto.

Sumut Deflasi
Sementara itu, Sumatra Utara, mengalami deflasi 0,34%. BPS Sumut mencatat, ketiga kota di Sumut mengalami deflasi yakni Medan 0,35%, Padang Sidempuan 0,3%, dan Sibolga 0,61%.

Adapun komoditas utama penyumbang deflasi di Medan yakni bensin, tarif angkutan dalam kota, cabai merah, angkutan udara, bayam, cabai hijau, dan tomat buah.

Pengamat ekonomi IAIN Sumut Gunawan Benjamin menuturkan, deflasi tersebut sesuai dengan ekspektasi.

"Januari kerap menjadi bulan langganan terjadinya lonjakan inflasi. Apalagi sempat pergerakan harga kebutuhan masyarakat tak turun. Tapi penurunan harga BBM sangat berpengaruh. Tanpa penurunan harga BBM, inflasi Sumut mencapai 1,2%," ucap Gunawan.

Tag : Inflasi, inflasi aceh
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top