Harga Beras Naik, Bahan Pangan Sumbang Deflasi Februari 2015

Badan Pusat Statistik mencatat deflasi 0,36 persen selama Februari 2015 dipengaruhi oleh turunnya harga bahan pangan dan Bahan Bakar Minyak (BBM)
Redaksi | 02 Maret 2015 15:27 WIB
Presiden Joko Widodo melakukan inspeksi mendadak ke Pasar Pagi Rawamangun dan Pasar Pramuka, di Jakarta Timur, Sabtu (28/2/2015). - Setpres/Rusman

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Pusat Statistik  mencatat deflasi 0,36 persen selama Februari 2015 dipengaruhi oleh turunnya harga bahan pangan dan Bahan Bakar Minyak (BBM).

BPS menjelaskan penyumbang deflasi pada Februari adalah cabai merah, bensin, cabai rawit, tarif angkutan dalam kota, daging ayam ras dan telur ayam ras, semen, solar, tomat sayur, cabai hijau dan bawang merah.

"Harga bahan pangan seperti cabai dan bawang tercatat rendah pada Februari, kecuali harga beras," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Sasmito Hadi Wibowo, Senin (2/3).

Dia menjelaskan cabai merah harganya turun karena pasokan berlimpah dan distribusinya lancar, sedangkan harga bensin dipengaruhi turunnya harga minyak internasional dan kebijakan pemerintah terkait BBM.

Sementara komoditas yang menyumbang inflasi, menurut BPS, adalah beras, tarif listrik, tarif angkutan udara, tarif sewa rumah, emas perhiasan, rokok kretek filter, mobil, upah tukang bukan mandor, tarif kontrak rumah dan nasi dengan lauk.

"Tarif angkutan darat meskipun mengalami penurunan terkena dampak turunnya harga bensin, namun tarif angkutan udara mengalami kenaikan, karena tingginya permintaan menjelang hari perayaan Imlek," jelas Sasmito.

Dengan adanya deflasi pada Februari, dia menjelaskan, maka sepanjang tahun kalender Januari-Februari 2015 masih tercatat deflasi 0,61 persen karena pada Januari juga tercatat deflasi sebesar 0,24 persen.

"Ini jarang terjadi, karena biasanya tren awal tahun Januari dan Februari mengalami inflasi," kata Sasmito.

Dari sisi kelompok pengeluaran, kelompok bahan makanan menyumbang deflasi 1,47 persen diikuti kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan yang tercatat deflasi 1,53 persen pada Februari 2015.

Namun, kelompok lainnya masih menyumbang inflasi, antara lain kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau (0,45 persen); kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar (0,41 persen); dan kelompok sandang 0,52 persen.

"Selain itu, kelompok kesehatan juga menyumbang inflasi 0,39 persen pada Februari diikuti kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,14 persen," tambah Sasmito.

BPS juga mencatat laju inflasi tahunan (yoy) masih tinggi meskipun terus mengalami penurunan yaitu sebesar 6,29 persen.

Sementara inflasi komponen inti pada Februari tercatat 0,34 persen dan inflasi inti secara tahunan (yoy) 4,96 persen.

Dari 82 kota IHK, sebanyak 70 kota mengalami deflasi dan hanya 12 kota yang menyumbang inflasi pada Februari. Deflasi tertinggi terjadi di Bukit Tinggi sebesar 2,35 persen dan terendah di Jayapura 0,04 persen.

"Sedangkan, inflasi tertinggi terjadi di Tual yaitu mencapai 3,2 persen, karena harga ikan disana mengalami kenaikan tajam," ujar Sasmito.

Sumber : Antara

Tag : bps
Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top