Deflasi Rendah pada Februari, Pemprov Jatim Diminta Waspadai Tekanan Inflasi Maret

Meski Jawa Timur berhasil menorehkan deflasi yang lebih rendah ketimbang rerata level nasional pada Februari, pemerintah provinsi dan Bank Indoensia Kanwil IV diminta tidak lengah pada potensi lambungan inflasi bulan depan.
Wike Dita Herlinda | 02 Maret 2015 17:58 WIB
Jatim diminta waspadai potensi inflasi Maret. -

Bisnis.com, SURABAYA — Meski Jawa Timur berhasil menorehkan deflasi yang lebih rendah ketimbang rerata level nasional pada Februari, pemerintah provinsi dan Bank Indoensia Kanwil IV diminta tidak lengah pada potensi lambungan inflasi bulan depan.

Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim melaporkan indeks harga konsumen (IHK) provinsi tersebut bertengger pada level -0,52%, lebih rendah dari tingkat nasional -0,36%. BPS mengapresiasi angka IHK Februari Jatim itu sebagai sebuah prestasi.

“Artinya kemampuan mengendalikan harga oleh Tim Pengendali Inflasi Daerah [TPID] sudah lebih baik ketimbang bulan sebelumnya. IHK tahun kalender mencapai -0,32%, karena pada Januari terjadi inflasi 0,20%,” kata Kepala BPS Jatim Sairi Hisbullah, Senin (2/3/2015).

Namun demikian, otoritas statistik memperingatkan Jatim bisa saja kembali berbalik ke level inflasi pada Maret, seiring dengan adanya kebijakan penaikan harga bahan bakar minyak (BBM), tarif angkutan udara, dan belum melunaknya kenaikan harga beras.

Perlu digarisbawahi, deflasi Jatim pada Februari paling banyak disumbang dari penurunan harga BBM (-0,31%), cabai rawit (-0,16%), cabai merah (-0,86%), tarif angkutan dalam kota (-0,07%), dan tarif angkutan udara (-0,49%).

Sementara itu, penyumbang inflasi a.l. harga beras (0,10%), tarif listrik (0,06%), mobil (0,02%), serta emas perhiasan dan motor masing-masing sebesar 0,01%. Tren tersebut terjadi di hampir seluruh wilayah kabupaten/kota di Jawa Timur.

Sairi menjelaskan besarnya sumbangsih produk hortikultura—khususnya cabai—terhadap deflasi Februari, lebih bersifat siklus musiman. Akibatnya, komoditas yang harganya anjlok karena kelimpahan produksi awal tahun berpeluang kembali melambung periode berikutnya.

“Bisa jadi [Jatim kembali inflasi pada Maret], karena beberapa komoditas yang sekarang harganya turun, bisa kembali naik bulan depan. Belum lagi ada kenaikan harga BBM, meski dampaknya belum langsung terasa dalam waktu dekat.”

Kondisi-kondisi itu, sebut Sairi, merupakan lampu kuning bagi Pemprov Jatim dan TPID. Tugas BI dalam mengendalikan inflasi di Jatim, menurutnya, baru akan diuji secara lebih berat bulan depan.

“Inflasi atau tidak bulan depan, semua akan tergantung kebijakan pemerintah. Misalnya, produksi hortikulturan banyak, tapi kalau tidak diimbangi dengan pengaturan distribusi yang baik, harganya tetap akan tinggi.”

Tag : Inflasi, deflasi, jawa timur
Editor : Setyardi Widodo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top