Dipicu Penurunan Bunga China, Dolar AS Kian Perkasa

Penguatan dolar tak terbendung,greenbackmelejit mendekati level tertinggi sejak 2004 di tengah sentimen disparitas kebijakan moneter yang menguat setelah China kembali memangkas suku bunganya.
Ardhanareswari AHP | 02 Maret 2015 21:05 WIB
Ilustrasi dolar AS - Antara/Wahyu Putro A

Bisnis.com, EDINBURGH--Penguatan dolar tak terbendung, greenback melejit mendekati level tertinggi sejak 2004 di tengah sentimen disparitas kebijakan moneter yang menguat setelah China kembali memangkas suku bunganya.

Pada perdagangan Senin (2/3/2015) dolar Amerika Serikat menguat terhadap 16 mata uang dunia yang dipantau oleh Bloomberg Dollar Index. Indeks dolar spot tercatat menguat 25 poin ke level 1.172,62. Indeks yang mengukur nilai tukar dolar terhadap sepuluh mata uang dunia utama itu mencapai level penutupan tertinggi dalam lebih dari satu dekade terakhir pada 11 Februari, yakni 1.174,87.

Penyebab penguatan dolar ini tentunya dipicu oleh langkah China. Semua orang berekspektasi bank sentral yang terlibat dalam perlemahan mata uang akan melanjutkan langkahnya. Tentu saja the Fed tidak ikut-ikutan, kata analis senior dari Commerzbank AG Lutz Karpowitz, seperti dikutip dari Bloomberg.

Peoples Bank of China (PBoC) memangkas kembali suku bunga deposito menjadi 2,5% dan pinjaman bertenor setahun menjadi 5,35%. Alhasil, dolar melambung ke level tertinggi dalam dua tahun terakhir terhadap yuan.

Tak jauh berbeda, dolar Australia melemah di tengah prediksi pelaku pasar bahwa bank sentral setempat akan melanjutkan pemangkasan suku bunga sementara poundsterling terdepresiasi setelah laporan laju pertumbuhan harga rumah melambung ke level terendah selama 17 bulan.

Pelaku pasar memproyeksikan peluang pemangkasan lebih lanjut oleh Reserve Bank of Australia mencapai 61%. Bank sentral itu diprediksi akan memangkas suku bunganya dari 2,25% menjadi 2% dalam pekan ini.

Nilai dolar terkerek tajam selama setahun terakhir di tengah prospek kenaikan suku bunga acuan AS atauFed funds rate. Pengetatan moneter di Negeri Paman Sam itu berbanding terbalik dengan tren pelonggaran kebijakan moneter global yang ditempuh berbagai bank sentral, dari Eropa, Asia, hingga sederet negara di Benua AS, seperti Kanada.

Pemangkasan suku bunga itu memunculkan dugaan bahwa sederet negara terlibat dalam perang kurs, yakni menggunakan kebijakan moneter dengan tujuan secara sengaja melemahkan mata uang guna menggenjot kinerja ekspor.

Sejumlah ekonom bahkan mensinyalir bahwa the Fed sebenarnya mulai ikut masuk dalam arena perang kurs mengingat otoritas moneter Negeri Paman Sam itu terus menunda kenaikan suku bunganya.

Terlebih, AS menjadi negara yang paling dirugikan dengan perang tersebut. Pelaku usaha pun mulai mengeluhkan tentang tingginya nilai dolar yang menggerus daya saing produk merek.

Pada perdagangan Senin petang, nilai dolar Australia tergerus 0,24% menjadi 0,77 terhadap dolar AS, sedangkan poundsterling melemah 0,16% menjadi 1,54.

Yen Jepang melemah 0,16% menjadi 119,82 per dolar. Sebagian besar mata uang di wilayah Asia pun ikut terdepresiasi terhadap greenback.Ringgit membukukan depresiasi terbesar dengan perlemahan mencapai 0,75%.

Sumber : bloomberg

Tag : dolar as, china
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top