BI Rate Dipertahankan untuk Melawan Pelemahan Rupiah

Bank Indonesia perkuat langkah-langkah untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah.
Yanita Petriella | 17 Maret 2015 17:44 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Indonesia perkuat langkah-langkah untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah.

Oleh karena itu, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 17 Maret 2015 diputuskan untuk mempertahankan suku bunga BI atau BI rate sebesar 7,5% dengan suku bunga deposit facility sebesar 5,50% dan lending facility pada level 8,00%.

Keputusan tersebut sejalan dengan upaya untuk mencapai sasaran inflasi 41% pada 2015 dan 2016, serta mengarahkan defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih sehat dalam kisaran 2,5-3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dalam jangka menengah.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara mengatakan bauran kebijakan tetap difokuskan pada upaya menjaga stabilitas makroekonomi di tengah meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global.

"Kami berkomitmen untuk memperkuat bauran kebijakan moneter dan makroprudensial dan meningkatkan koordinasi dengan pemerintah dalam pengendalian inflasi dan defisit transaksi berjalan serta mendorong percepatan reformasi struktural," ujarnya di Gedung BI, Selasa (17/3/2015).

Bank Indonesia juga mendukung langkah-langkah lanjutan yang dilakukan oleh pemerintah dalam melakukan reformasi struktural dalam rangka memperkuat neraca pembayaran.

Tirta menambahkan saat ini pemulihan ekonomi global masih terus berlangsung, terutama ditopang oleh perekonomian AS yang semakin solid.

Pemulihan ekonomi AS didukung oleh konsumsi yang meningkat seiring dengan turunnya harga minyak dan membaiknya kondisi ketenagakerjaan.

"Konsumsi AS yang membaik tersebut diikuti oleh indikator produksi yang semakin meningkat," kata Tirta.

Perekonomian AS yang solid, lanjutnya, semakin menguatkan arah normalisasi kebijakan moneternya, meskipun waktu implementasinya masih diliputi ketidakpastian.

Hal ini mendorong penguatan dolar AS terhadap hampir seluruh mata uang dunia serta meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan global.

Bank Indonesia menilai langkah Quantitative Easing dari Bank Sentral Eropa semakin memperlemah mata uang euro di samping dapat mengimbangi sebagian dari pengaruh kebijakan the Fed terhadap pergerakan arus modal global ke emerging markets.

Di sisi lain, perekonomian Tiongkok diperkirakan terus melambat seiring penurunan investasi.

"Sejalan dengan itu, harga komoditas global, termasuk harga minyak, diperkirakan masih berada pada level yang rendah, meskipun terdapat peningkatan dibandingkan level terendahnya pada bulan Januari 2015," tutur Tirta.

Tag : BI Rate
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top