Setelah Kejutan Bulan Lalu, BI Rate Diprediksi Bertahan

Hampir semua ekonom yang disurvei Bloomberg memperkirakan BI Rate akan dipertahankan. Sebanyak 15 dari 17 ekonom memprediksi suku bunga acuan BI tetap di level 7,5%, sedangkan 2 ekonom menduga BI kembali memangkas suku bunga.
Demis Rizky Gosta | 17 Maret 2015 10:32 WIB
Ilustrasi - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA— Kejutan pemangkasan BI Rate bulan lalu, yang menimbulkan kritik atas independensi Bank Indonesia, tidak terulang. BI diprediksi mempertahankan tingkat suku bunga di level 7,5%. 

Hampir semua ekonom yang disurvei Bloomberg memperkirakan BI Rate akan dipertahankan. Sebanyak 15 dari 17 ekonom memprediksi suku bunga acuan BI tetap di level 7,5%, sedangkan 2 ekonom menduga BI kembali memangkas suku bunga.

Ekonom Samuel Sekuritas, Rangga Cipta, memperkirakan BI Rate akan dipertahankan. Kebijakan pelonggaran moneter berikutnya baru akan dijalankan BI menjelang akhir tahun.

BI bulan lalu secara mengejutkan menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin mengikuti langkah kebijakan pelonggaran moneter yang dijalankan sekitar 20 bank sentral lain di seluruh dunia.

Sebulan sejak penaikan BI Rate, kebijakan yang dikenal sebagai competitive devaluation tersebut juga dilakukan oleh bank sentral Thailand, Korea Selatan, dan China.

Pemangkasan suku bunga bulan lalu menimbulkan kritik kepada kebijakan BI yang dipicu oleh laporan yang diterbitkan DBS.

Laporan tersebut menilai pelemahan rupiah antara lain disebabkan keraguan pasar terhadap independensi BI.

Penurunan suku bunga BI di saat fundamental ekonomi kuat membuat pasar ragu, apalagi pelonggaran moneter sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi pemerintahan Jokowi yang sangat ambisius. Namun, tudingan tersebut sudah dibantah oleh pemerintah maupun Bank Indonesia. 

Ekonom Standard Chartered, Eric Sugandi, adalah salah satu dari minoritas ekonom yang memperkirakan hari ini BI Rate akan diturunkan.

“BI memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga karena inflasi yang rendah. Kami melihat juga ada kemungkinan rupiah sudah lebih stabil pada kuartal besok.” katanya dalam berita Bisnis Indonesia hari ini (Selasa, 17/3/2015).

Ekonomi Indonesia mengalami disinflasi dalam 2 bulan terakhir. Tingkat inflasi year on year turun dari 8,36% pada Desember 2014, ke 6,69% pada Januari, dan terakhir ke 6,29% pada Februari.

Eric mengatakan tingkat inflasi bisa semakin rendah pada April dan Mei mengikuti tren musiman yang terpengaruh masa panen raya.

Tag : BI Rate
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top