Menkeu Sebut Pernyataan Jokowi Soal Utang IMF Salah Kutip

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan pernyataan Presiden Joko Widodo bahwa Indonesia masih mempunyai utang IMF, salah kutip. Indonesia, ungkapnya, sudah tidak mempunyai utang dengan lembaga pendanaan dunia itu sejak 2006 lalu.
Hendri Tri Widi Asworo
Hendri Tri Widi Asworo - Bisnis.com 28 April 2015  |  16:54 WIB
Menkeu Sebut Pernyataan Jokowi Soal Utang IMF Salah Kutip
Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro

Bisnis.com, JAKARTA--Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan pernyataan Presiden Joko Widodo bahwa Indonesia masih mempunyai utang IMF, salah kutip. Indonesia, ungkapnya, sudah tidak mempunyai utang dengan lembaga pendanaan dunia itu sejak 2006 lalu.

"Salah kutip pernyataan itu. Indonesia sudah tidak mempunyai utang di IMF," kata Bambang usai Forum Riset Ekonomi Keuangan Syariah (FREKS) 2015 dengan tema 'Menata Sistem Keuangan Syariah Nasional yang Kokoh, Stabil dan Inklusif' di Balai Sidang UI, Selasa (28/4/2015).

Seperti diketahui, pernyataan Presiden Joko Widodo soal Indonesia masih memiliki utang kepada Dana Moneter Internasional (IMF) membuat Susilo Bambang Yudhoyono berkomentar. Dalam akun Twitter-nya, mantan presiden yang juga Ketua Umum Partai Demokrat itu berkomentar mengoreksi kesalahan data Presiden Jokowi.

Sambil minta maaf, SBY berkata, "Maaf Maaf, saya terpaksa mengoreksi pernyataan Presiden Jokowi ttg utang IMF yg dimuat di harian Rakyat Merdeka kemarin, tgl 27 April 2015."

"Pak Jokowi mengatakan yang intinya Indonesia masih pinjam uang ke IMF. Berarti kita dianggap masih punya utang kepada IMF," kicau SBY beberapa waktu lalu.

Namun, Andi Widjajanto, Sekretaris Kabinet, masih ngotot bahwa Indonesia masih behutang meskipun pada 2006 Indonesia memang tidak memiliki utang kepada IMF. Namun pada 2009, utang kepada IMF muncul lagi sebesar US$3,09 miliar.

Data tersebut terungkap dalam laporan Statistik Utang Luar Negeri Indonesia yang dirilis Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia pada Januari 2015.

"Pada 2006 memang kita tidak memiliki utang dengan IMF, tetapi muncul lagi pada 2009 besarnya US$3 miliar dan terus ada sampai hari ini," tutur Andi di Kompleks Istana Kepresidenan, Selasa (28/4/2015).

Menurut Andi, utang tersebut merupakan pinjaman moneter untuk menjaga cadangan devisa Indonesia. "Bukan utang fiskal yang bisa untuk membangun," imbuh Andi.

Senada dengan Andi, Direktur Strategis dan Portofolio Direktorat Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko Kementerian Keuangan Schneider Siahaan menegaskan IMF tidak lagi memberikan pinjaman untuk membiayai fiskal suatu negara. Untuk itu, utang US$3 miliar ditarik oleh Bank Indonesia, bukan pemerintah.

"Mungkin IMF kasih pinjam untuk BI jaga-jaga cadangan devisa," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
imf, POLEMIK UTANG IMF

Sumber : Tempo.co

Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top