Ini Data Perbandingan Lengkap Ekonomi 2015 Versus Krisis 1998 & 2008

Sejumlah pihak menilai kondisi perekonomian saat ini telah memasuki masa krisis seperti yang terjadi pada 1997-1998 akibat terus melorotnya nilai tukar rupiah. Apakah pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla menjadi penyebabnya? Simak data perbandingaan ekonomi saat ini dibandingkan dengan 1998 dan 2008.
Sukirno | 02 September 2015 04:30 WIB
Apablia ditinjau dari posisi terkuat rupiah yakni pada 17 April 2015 di level Rp12.850/US, rupiah telah anjlok 9,98% ke level terlemah Rp14.133/US yang terjadi pada 26 Agustus 2015. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA—Sejumlah pihak menilai kondisi perekonomian saat ini telah memasuki masa krisis seperti yang terjadi pada 1997-1998 akibat terus melorotnya nilai tukar rupiah. Apakah pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla menjadi penyebabnya? Simak data perbandingaan ekonomi saat ini dibandingkan dengan 1998 dan 2008.

Kurs mata uang rupiah tiba-tiba terus anjlok menembus Rp14.100 per dolar Amerika Serikat disertai dengan terpuruknya Indeks harga saham gabungan (IHSG) hingga menyentuh level 4.111,11.

Nilai tukar rupiah telah terdepresiasi 12,9% year-to-date, dan melemah sejak tujuh pekan terakhir yakni dari level Rp13.314/US$ yang terjadi pada 10 Juli 2015.

Apablia ditinjau dari posisi terkuat rupiah yakni pada 17 April 2015 di level Rp12.850/US$, rupiah telah anjlok 9,98% ke level terlemah Rp14.133/US$ yang terjadi pada 26 Agustus 2015.

Sementara itu, pada akhir pekan lalu IHSG akhirnya ditutup positif 2,54% atau melesat 110,25 poin ke 4.446,20 setelah 5 pekan berturut-turut bursa saham Indonesia membukukan kinerja negatif.

Meskipun masih menjadi bursa saham terburuk di kawasan Asia, melorotnya IHSG sejak awal tahun kian menyusut dan tersisa 14,94%.

Jika ditelusuri sejak pencapaian all time high pada 7 April 2015 silam di level 5.523,29, IHSG telah terjungkal hingga 24,62% ke titik terendah yang terjadi pada penutupan awal pekan ini 4.163,73.

Akan tetapi, sejak tiga hari terakhir, IHSG terus positif dan mulai menanjak 5,15% ke level 4.446,20 dari penutupan pada 25 Agustus di level 4.228,50.

Budi Hikmat, Chief Economist and Director for Investor Relations PT Bahana TCW Investment Management, mengatakan memasuki semester II/2015, dia menilai kejatuhan pasar modal dan nilai tukar rupiah lebih dipengaruhi oleh faktor  eksternal ketimbang  internal.

"Secara  internal, pemerintah nampaknya mulai berhasil memacu pengeluaran belanja yang dianggap melandasi perlambatan ekonomi selama semester I/2015 sehingga equity investor cenderung hengkang," ungkapnya dalam riset belum lama ini.

Secara eksternal, dunia menghadapi tantangan bersama mulai  dari krisis utang Yunani, ketidakpastian jadwal normalisasi  suku bunga Fed hingga currency wars menyusul keputusan China mendevaluasi yuan.

Menurutnya, yang paling banyak mendapat perhatian adalah pelemahan tajam rupiah yang melewati paras Rp14.000 per dollar. Kurs rupiah sepanjang tahun berjalan sudah melemah 12,4%.  Selama tiga tahun terakhir, rupiah melemah 32,7%.

"Silakan bandingkan dengan yen, lira Turki dan rubel Russia," paparnya. 

Dengan membandingkan angka nominal kurs rupiah terhadap angka  tertinggi sejarah, banyak pihak yang mengkuatirkan Indonesia  sedang menuju krisis seperti tahun 1997/1998.

Dia meyakini kekuatiran tersebut tidak beralasan. Sebab, yang  terjadi sekarang adalah penguatan dollar temporer ditengah  pelemahan ekonomi global ketika sistem pengelolaan makroekonomi Indonesia jauh lebih baik ketimbang 1997/1998.

Berikut perbandingan kondisi ekonomi Indonesia saat ini dengan periode krisis 1998 dan 2008:

Indikator ekonomi

1998

2008

2015

Pertumbuhan ekonomi

-13,10%

4,12%

4,67%

Inflasi

82,4%

12,14%

7,18%

Cadangan devisa

US$17,4 miliar

US$80,20 miliar

US$107,6 miliar

Kurs rupiah

Rp16.650/US$

Rp12.650/US$

Rp14.098/US$

Rasio utang pemerintah terhadap produk domestic bruto (PDB)

100%

27,4%

24,7%

Rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) gross

30%

3,8%

3,6%

BI Rate

60%

9,5%

7,5%

Indeks harga saham gabungan (IHSG)

256

1.111

4.237

Total utang luar negeri (Pemerintah dan swasta)

US$150,8 miliar

US$155,08 miliar

US$304,3 miliar

Rasio utang luar negeri terhadap cadangan devisa

8,6 kali

3,1 kali

2,8 kali

Depresiasi rupiah (posisi terendah)

197%

34,86%

14,03%

Sumber: Bisnis Indonesia, diolah.

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah, krisis ekonomi
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top