Saran Bos IMF ke Indonesia Hadapi Tekanan Ekonomi Global

- International Monetary Fund (IMF) menyatakan saat ini perekonomian negara berkembang termasuk Indonesia tengah menghadapi tekanan dari ekonomi global.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 02 September 2015  |  16:42 WIB
Saran Bos IMF ke Indonesia Hadapi Tekanan Ekonomi Global
Managing Director IMF Christine Lagarde - telegraph.co.uk
Bisnis.com, JAKARTA - International Monetary Fund (IMF) menyatakan saat ini perekonomian negara berkembang termasuk Indonesia tengah menghadapi tekanan dari ekonomi global.
 
Managing Director IMF Christine Lagarde mengatakan tekanan pada negara berkembang ini lantaran adanya gejolak perekonomian global seperti pemulihan ekonomi China, perlambatan pertumbuhan ekonomi Jepang, penurunan harga komoditas, hingga rencana kenaikan tingkat suku bunga acuan Bank Sentral AS atau Fed Fund Rate.
 
"‎Sekarang Anda merasakan dampak dari rebalancing China, pertumbuhan yang lambat Jepang, dan penurunan harga komoditas. Anda menghadapi prospek suku bunga AS yang lebih tinggi," ujarnya saat Konferensi IMF-Bank Indonesia di Gedung Bank Indonesia, Rabu (2/9/2015).
 
Menurutnya, Indonesia tidak perlu cemas dengan berbagai masalah yang terjadi dalam konteks perekonomian global.
 
Pasalnya, dia menyakini Indonesia dapat melewati kondisi ekonomi dan tekanan nilai tukar rupiah yang terjadi saat ini. Hal itu terbukti saat Indonesia berhasil menghadapi gejolak ekonomi atau taper tantrum pada 2013 dan melewati krisis ekonomi di 1998 dan 2008.
 
"Pesan saya hari ini adalah bahwa ada alasan untuk percaya diri terus di Indonesia. Pemerintah Anda sepenuhnya memahami apa yang perlu dilakukan dan siap untuk mengambil tindakan lebih lanjut jika diperlukan," ucapnya.
 
Lagarde menuturkan ada beberapa hal yang dapat dilakukan‎ dlaam menghadapi gejolak ekonomi global yang melanda saat ini.
 
Menghadapi situasi perekonomian global yang tidak stabil serta untuk kembali mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi tersebut, lanjutnya, perlu memperkuat pertahanan dengan kebijakan fiskal yang kokoh atau prudent.
 
"Tentu saja, kebijakan perlu disesuaikan dengan keadaan negara yang berbeda satu sama lainnya," katanya.
 
Selain itu, mantan Menteri Keuangan Perancis ini juga mengusulkan untuk menjaga kualitas kredit yang diberikan oleh lembaga-lembaga keuangan di negara masing-masing.
 
"Siapa yang mampu mempertahankan kualitas kredit, maka akan survive ke depannya," tuturny.
 
Volatilitas nilai tukar mata uang juga perlu dijaga agar tahan terhadap gejolak ekonomi yang terjadi.
 
"Ini menjadi poin yang sangat penting dalam rangka menjaga iklim investasi dan industri di setiap negara," ujar Lagarde.
 
Selain itu, dalam menghadapi gejolak ekonomi, cadangan devisa yang memadahi ini perlu dipertahankan. Dia menilai cadangan devisa Indonesia sebesar US$107 miliar atau setara tujuh bulan impor menjadi salah satu bukti yang positif dan pantas untuk dijaga.
 
"Dan yang kelima, negara harus mampu membangun pengawasan dan pengaturan di sektor keuangan," katanya.
 
Lagarde menegaskan hal yang terpenting dalam menjalankan semua kebijakan tersebut yakni pemerintah harus sepenuhnya memahami apa yang perlu dilakukan dan siap untuk mengambil tindakan lebih lanjut jika diperlukan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
krisis ekonomi, imf

Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top