Pertumbuhan Kredit BPR Diprediksi Kurang dari 10%

Kalangan pelaku industri bank perkreditan rakyat di Jawa Barat merasakan dampak dari pelemahan ekonomi saat ini yaitu seretnya penyaluran kredit, dari proyeksi tumbuh 15% pada tahun ini menjadi di bawah 10%.
Abdalah Gifar | 02 September 2015 19:22 WIB
Kasir Bank Perkreditan Rakyat (BPR) menghitung uang rupiah. - Bisnis.com

Bisnis.com, BANDUNG - Kalangan pelaku industri bank perkreditan rakyat di Jawa Barat merasakan dampak dari pelemahan ekonomi saat ini yaitu seretnya penyaluran kredit, dari proyeksi tumbuh 15% pada tahun ini menjadi di bawah 10%.

Ketua Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) Jawa Barat Andi Gunawan menyoroti penyebab anjloknya kredit BPR tidak semata faktor pelemahan kurs rupiah terhadap dolar Amerika, tetapi akibat pelemahan ekonomi secara umum.

“Kami melihatnya ekonomi melemah. Pasar kami adalah pelaku usaha mikro, mereka saat ini kesulitan melakukan pengembangan usaha, [Kondisinya] Agak berat untuk kredit, usahanya belum bergairah,” katanya, Rabu (2/9/2015).

Lebih lanjut, dia menjelaskan para pelaku usaha mikro tersebut memilih tidak mengambil kredit ke BPR dalam mengembangkan usahanya di tengah menurunnya permintaan ataupun daya beli masyarakat.

“Untuk berutang, [pelaku usaha mikro] mikir-mikir dulu. Utangnya mau dipakai apa atau dialokasikan ke mana. Dampaknya lepas kredit susah, NPL [kredit bermasalah] cenderung naik, jadi selanjutnya mempengaruhi laba,” tuturnya.

Andi memandang pelaku industri BPR di Tanah Priangan kini tinggal hanya bisa menumpukan harapan pertumbuhan bisnisnya, termasuk dalam perolehan laba usahanya, yaitu dari kredit konsumer.  

“Dengan koreksi pertumbuhan penyaluran kredit dari 15% yang koreksinya menjadi di bawah 10% tahun ini, kami masih berharap pertumbuhan laba tetap dapat tercapai sekitar 15%,” ujarnya.

Tag : bpr
Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top