EKONOMI JATIM: Kembali Deflasi, Ini Penyebabnya

Provinsi Jawa Timur kembali mengalami defllasi 0,19% pada Oktober. Deflasi ini merupakan kali kedua sepanjang 2015 sejak Februari lalu di mana deflasi menyentuh 0,52%.nn
Deliana Pradhita Sari | 02 November 2015 17:57 WIB
Kebutuhan pokok di pasar tradisional. - Ilustrasi/Bisnis

Bisnis.com, SURABAYA - Provinsi Jawa Timur kembali mengalami defllasi 0,19% pada Oktober. Deflasi ini merupakan kali kedua sepanjang 2015 sejak Februari lalu di mana deflasi menyentuh 0,52%.

Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Jatim Sairi Hasbullah mengatakan deflasi pada Oktober tidak dapat dikategorikan sebagai prestasi. Pasalnya, kendati bayang-bayang inflasi dapat ditekan namun daya beli masyarakat terhadap komoditas tertentu sedikit menurun.

Hal ini mengakibatkan suplai barang di pasaran tidak berimbang dengan permintaan konsumen yang cenderung melemah. "Daya beli konsumen menurun yang berpengaruh terhadap permintaan. Oleh sebab itu, produsen di Jawa Timur beramai-ramai menurunnya harga jual. Ini yang menyebabkan deflasi pada Oktober," katanya di Surabaya, Senin (2/11/2015).

Deflasi pada Oktober terjadinya karena turunnya indeks harga konsumen (IHK) pada 4 kelompok pengeluaran. Kelompok pengeluaran dengan deflasi tertinggi adalah adalah kelompok bahan makanan 1,08%, disusul kelompok sandang 0,16%, kelompok kesehatan 0,15%, serta kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan masing-masing 0,01%.

Di samping itu, komoditas pemicu deflasi kali ini disumbang oleh jatuhnya harga cabai rawit, telur, ayam ras, daging ayam ras, cabai merah, apel, melon, pepaya, emas perhiasan, parfum dan tarif listrik.

Sairi menerangkan, Oktober merupakan panen raya bagi komoditas cabai rawit, cabai merah dan melon serentak di beberapa wilayah Jawa Timur. Hal ini membuat pasokan komoditas tersebut melimpah di pasaran. Namun melonjaknya suplai tidak dibarengi dengan meningkatnya permintaan konsumen.

Di sisi lain, emas perhiasaan juga mengalami penurunan harga terkait spekulasi tentang kenaikan suku bunga The Fed. Sedangkan tarif listrik juga mengalami penurunan untung golongan tarif R2 dengan daya 3.500 VA hingga 5.000 VA dan R3 dengan daya 6.600 VA ke atas. Adapun tingkat penurunannya yaitu dari Rp1.523 per Kwh menjadi Rp1.507 per Kwh.

Deputi Direktur Bank Indonesia Perwakilan Jawa Timur Syarifuddin Bassara menyebutkan penurunan indeks keyakinan konsumen di Jawa Timur sudah terlihat sejak September lalu. Hal ini tercermin dari kecenderungan penurunan optimisme yang berdampak pada daya beli.

"Profil responden yang mengalami penurunan optimisme daya beli antara lain responden laki-laki dengan pengeluaran menengah-atas [Rp4,1 juta-Rp5 juta], kelompok usia tua [41-50 tahun], kelompok pascasarjana dan kelompok pekerja nonformal," sebutnya.

Penurunan indeks keyakinan konsumen, lanjut dia, dikerek oleh pergerakan negatif indeks ekspektasi konsumen (IEK) dan indeks kondisi ekonomi (IKE).

Pemicu munculnya sentimen negatif tersebut terkait dengan terbatasanya ketersediaan lapangan pekerjaan di Jawa Timur yang mana nilai indeksnya menyentuh 72,3 poin. Poin tersebut merupakan titik terendah dalam dua tahun terakhir.

Tag : EKONOMI JATIM
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top