Bukopin Kaji Penerbitan Obligasi

Entitas induk dari Grup Bukopin, PT Bank Bukopin Tbk., tengah mengkaji penerbitan obligasi pada tahun ini.
Destyananda Helen | 10 Januari 2016 00:20 WIB
Direktur Utama PT Bank Bukopin Tbk Glen Glenardi (kiri) mejelaskan kinerja perusahaan, di Jakarta, Senin (30/3). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA—Entitas induk dari Grup Bukopin, PT Bank Bukopin Tbk., tengah mengkaji penerbitan obligasi pada tahun ini.

Direktur Utama Bank Bukopin Glen Glenardi mengatakan pada tahun lalu, perusahaan telah menerbitkan obligasi subordinasi berkelanjutan untuk menyokong ekspansi kredit. Penerbitan surat berharga tersebut juga dilakukan untuk menopang struktur permodalan dan pendanaan jangka panjang perusahaan.

Jika kondisi pasar tahun ini mulai bergairah, ujar Glen, pihaknya bakal mempertimbangkan untuk kembali menerbitkan obligasi. “Bisa jadi [akan menerbitkan obligasi], kami lihat nanti ya,” jelas Glen kepada Bisnis, Jumat (8/1/2016).

Glen sempat menyebutkan pada tahun ini Bukopin membidik pertumbuhan kredit di level 15%-16% atau berada di atas arahan bank sentral di level 12%-14%. Untuk menopang rancangan ekspansif tersebut, dia menuturkan perusahaan membutuhkan tambahan pendanaan.

Apalagi, per kuartal III/2015, capital adequacy ratio (CAR) Bank Bukopin bertengger di level 14,16% atau turun 33 basis poin (bps) dari 14,49% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Belum lagi, Glen mengungkapkan untuk menyesuaikan dengan aturan Basel 3, setidaknya perusahaan mesti memiliki CAR di level 18%-19%. Untuk mencapai level tersebut, emiten bersandi saham BBKP ini tengah mengkaji beberapa opsi untuk memupuk permodalan.

Dalam kajian internal, perusahaan memerlukan suntikan modal mencapai dua digit untuk mencatatkan level modal tersebut. “Salah satunya rights issue dan kami juga masih memiliki ruang untuk subdebt,” ujarnya.

Menilai prospek bisnis pada tahun depan, Glen mengutarakan perusahaan lebih berfokus untuk meminimalisir risiko kredit. Meski begitu, dia optimis tekanan pada risiko kredit di tahun depan akan menurun akibat aksi pemerintah dan regulator industri keuangan.

“Tapi aksi pemerintah mulai menggelontorkan APBN [anggaran pengeluaran dan belanja negara] dan relaksasi dari BI [Bank Indonesia] dan OJK [Otoritas Jasa Keuangan] sangat berpengaruh, maka risiko kredit optimis mulai menurun pada tahun depan,” kata Glen.

Sementara itu, pada pertengahan tahun lalu, BBKP memang telah menerbitkan Obligasi Subordinasi Berkelanjutan II Bank Bukopin Tahap I Tahun 2015 dengan nilai Rp1 triliun.

Direktur Bank Bukopin Eko Rachmansyah Gindo mengatakan perusahaan telah menggunakan seluruh dana hasil penawaran umum obligasi subordinasi berkelanjutan tersebut.

“Namun, apabila terdapat perbedaan berdasarkan hasil audit, maka kami akan menyampaikan perhitungan kembali pada periode berikutnya,” tulis Eko dalam keterbukaan informasinya yang disampaikan ke otoritas bursa, Jumat (8/1).

Adapun, Bank Bukopin tercatat memiliki dua obligasi subordinasi berkelanjutan yang jatuh tempo pada 6 Maret 2019 dan 30 Juni 2022.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bukopin

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top