Penurunan Harga BBM & Panen Raya Terbukti Tahan Laju Indeks Harga Konsumen

Penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) dan musim panen raya menahan laju indeks harga konsumen (IHK) April 2016 sehingga deflasi bertengger di level -0,29%.
Fauzul Muna | 02 Mei 2016 02:19 WIB
Seorang konsumen sedang memilih makanan dalam kemasan - Antara/M. Agung Rajasa

Bisnis.com, JAKARTA - Penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) dan musim panen raya menahan laju indeks harga konsumen (IHK) April 2016 sehingga deflasi bertengger di level -0,29%.

Hasil survei bisnis terhadap 10 lembaga ekonomi memproyeksikan terjadinya deflasi pada April 2016 sebesar 0,29% (mont to month/mtm). Proyeksi ini sekaligus mencatatkan inflasi 3,76% (year on year/yoy). Proyeksi tersebut jauh lebih rendah dari tahun lalu yang mengalami inflasi 0,36%, tertinggi sejak tujuh tahun terakhir.

Seluruh ekonom kompak menyatakan deflasi kali ini disokong dari penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) per 1 April. Pada saat yang bersamaan, ada momentum panen raya. “Deflasi di bahan makanan efek panen dan di utilitas BBM karena turunnya harga per 1 April dan [tarif] transportasi,” ujar Lana Soelistianingsih, ekonom Samuel Asset Management, Minggu (1/5/2016).

Seperti diketahui, per 1 April 2016, harga BBM jenis Premium menjadi Rp6.450 per liter dari sebelumnya Rp6.950 per liter. Harga Solar pun juga turun dari Rp5.650 per liter menjadi Rp5.150 per liter.

Sejalan dengan itu, pemerintah menetapkan penyesuaian tarif angkutan umum kelas ekonomi lewat Surat Edaran Menteri Perhubungan No. SE-15/2016. Penyesuaian tarif 3,38%-3,5% ini berlaku mulai 7 April.

Lana berujar kondisi itulah yang mengompensasi inflasi pada pangan nonberas. Menurutnya, pangan nonberas pada April diproyeksi masih akan menjadi penyumbang inflasi.

Hal senada juga disampaikan Eric Alexander Sugandi, Senior Economic Analyst Kenta Institute. Menurutnya, deflasioner dari panen beras sangat besar sehingga mampu mengompensasi inflasi di pos lain.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance Dzulfian Syafrian momentum deflasi memberikan ruang bagi pemerintah untuk merilis kebijakan ekspansif baik moneter maupun fiskal. Kebijakan moneter ekspansif bisa dilakukan dengan pemotongan kembali BI Rate.

Namun, pihaknya mensyaratkan pemotongan BI Rate diikuti penurunan suku bunga obligasi. Jika tidak, justru akan terjadi kekeringan likuiditas sehingga kebijakan penurunan BI Rate kontraproduktif untuk perekonomian.

Sementara itu, Ekonom PT Bank Permata Josua Pardede memperkirakan inflasi inti akan kembali turun menjadi 3,40% (yoy) dari bulan sebelumnya sebesar 3,50% (yoy). Hal ini menunjukkan inflasi dari sisi permintaan masih cenderung lemah pada awal tahun ini.

Penurunan inflasi inti disebabkan apresiasi nilai tukar rupiah serta penurunan harga emas. Dampak tidak langsung dari penurunan harga BBM juga membuat inflasi inti cenderung menurun.

Eric juga berpendapat pemulihan permintaan masih belum signifikan. Apalagi, jika inflasi Maret lalu yang lebih diakibatkan adanya kenaikan harga di pangan nonberas lebih banyak disumbang dari sisi pasokan. Pada saat yang bersamaan, permintaan masih stabil.

Penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) hingga 75 basis poin juga secara umum belum timbulkan tekanan dari sisi penawaran. Pasalnya, rumah tangga tidak menambah konsumsi secara signifikan.
“Tidak terjadi pengalihan yang signifikan dari tabungan ke konsumsi,” katanya.

Apabila dilihat dari sisi investasi, permintaan kredit pascapenurunan BI Rate juga tidak melonjak tajam walau investasi dalam negeri memang naik. Data ini, lanjutnya, menunjukkan tidak terjadi lonjakan tajam terhadap input produksi dan barang modal untuk kebutuhan investasi.

Chief Economist Bank Danamon Anton Hendranata dan Ekonom PT Bank Mandiri Tbk. Andry Asmoro pun juga berpandangan sama. Konsumsi masih belum bergerak signifikan walaupun ada dalam kondisi perbaikan.
“Inflasi intinya saya rasa masih rendah, mungkin masih di bawah 4%,” tuturnya.

WASPADA LEBARAN

Ekonom PT Bank Central Asia (BCA) David Sumual meminta pemerintah mewaspadai Ramadhan dan Idulfitri yang jatuh pada Juni hingga Juli 2016. Permintaan bahan pangan biasanya meningkat pada momentum ini.
“Apabila pasokan bahan makanan tidak ada peningkatan signifikan maka sektor ini lagi-lagi akan menjadi pendorong inflasi umum yang cukup signifikan,” tambahnya.

Dia mengusulkan agar pemerintah mengembangkan sistem informasi harga dan volume serta memperpaiki rantai pasok antar daerah. Cara ini dianggap ampuh untuk mengurangi pedagang perantara dan menyederhanakan rantai pasokan. “Di negara-negara lain, hari raya dan libur biasanya harga turun karena program diskon. Tidak seperti kita yang selalu diharapkan persoalan lonjakan harga,” tegasnya.

Perbaikan sistem harga termasuk soal lembaga yang menjadi penanggung jawab data stok pangan sehingga ada kejelasan antara pasokan dan permintaan. Misalnya terkait dengan kebutuhan impor sehingga kebutuhan pasokan bisa diantisipasi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
indeks harga konsumen

Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top